IJTIHAD KIAI AFIF MENGHADIRKAN DAN MENGGERAKKAN TRADISI

130

Written by:

Kesan pertama saat jumpa Kiai Afif—panggilan akrab KH. Afifuddin Muhajir—adalah kesederhanaan, kearifan, dan kedalaman ilmu. Para aktivis dan kader Nahdlatul Ulama pasti mengenalnya dengan baik, karena dalam beberapa dekade terakhir, ia menjadi “jimat” NU untuk memecahkan beberapa persoalan pelik, terkait keislaman, keindonesiaan, dan kemanusiaan. Bahkan dalam diri Kiai Afif sebenarnya personifikasi moderasi Islam ala NU dapat digambarkan dengan baik. Bagaimana itu terjadi?

Di dalam nalar keagamaan NU dikenal diktum, al-muhafadhah ‘ala al-qadim al-shalih wa al-akhdzu bi al-jadid al-ashlah. Yaitu mempertahankan tradisi lama yang baik dan mengambil tradisi baru yang lebih baik. Nalar ini sebenarnya mengandaikan, bahwa khazanah klasik, terutama kitab-kitab kuning yang ditulis oleh para ulama terdahulu merupakan gudang ilmu yang luar biasa luasnya. Ia tidak hanya merespons persoalan-persoalan yang ada pada masa itu, melainkan juga dapat dijadikan sebagai optik untuk meneropong persoalan-persoalan kekinian dan kedisinian.

Bersamaan dengan itu, pemikiran terus berkembang dan persoalan yang dihadapi umat juga semakin kompleks. Sebab itu, kita tidak bisa hanya mengacu pada pemikiran klasik yang kaya itu. Kita juga perlu memahami pemikiran kontemporer (al-jadid al-ashlah), sehingga lahir dialektika pemikiran antara tradisi lama dan tradisi baru. Jika di dalam tradisi baru ini terdapat kebaikan, maka kita bisa mengambilnya untuk kemaslahatan bersama.

Maka dari itu, Muhammad ‘Abid al-Jabiri menegaskan perlunya koneksitas antara tradisi masa lalu dengan tradisi masa kini (washl al-madhi bi al-hadhir). Khazanah Islam dengan berbagai corak dan alirannya pada hakikatnya merupakan sebuah pendulum yang tidak pernah berhenti, bahkan bisa dikatakan berputar. Sebab itu diperlukan sebuah pemikiran yang serius untuk meramu dengan baik antara tradisi masa lalu dan tradisi masa kini.

Hassan Hanafi menyebut tradisi sebagai khazanah kejiwaan (al-makhzun al-nafsi), yang semakin meneguhkan betapa pentingnya tradisi. Pada dasarnya kita tidak bisa meninggalkan tradisi. Yang harus dilakukan adalah menghadirkan dan menggerakkan tradisi (tahdhir wa tahrik al-turats). Dalam bahasa ulama al-Azhar saat ini adalah memperbarui wacana keagamaan (tadjid al-khithab al-diny).

Saya memilih istilah khusus untuk Kiai Afif, yaitu menghadirkan dan menggerakkan tradisi. Dalam berbagai forum yang saya ikuti dan mendengarkan langsung presentasi dari Kiai Afif, baik di lingkungan NU maupun diskusi-diskusi yang digelar oleh Perhimpunan Pengembangan Pesantren dan Masyarakat (P3M). Dalam berbagai halaqah, saya merasakan dengan seksama keinginan Kiai Afif agar kita warga pesantren, termasuk para santri dan kiai, mempunyai kepercayaan yang tinggi, bahwa khazanah pesantren mampu merespons isu-isu kontemporer yang menjadi perhatian publik. Pesantren dapat berperan lebih besar untuk memberikan baktinya bagi Tanah Air dan kemanusiaan.

Dalam konteks ini, Kiai Afif dapat disebut sebagai kiai atau ulama yang par excellence. Ide-idenya mewarnai pemikiran NU dan menjadi rujukan dalam mewarnai berbagai isu-isu kebangsaan dan kemanusiaan. Dalam tulisan ini, saya hanya mengetengahkan beberapa pikiran Kiai Afif yang penting untuk diketahui khalayak dan menjadi diskursus yang layak untuk diperbincangkan kembali. Pertama, pentingnya menjaga dan membumikan Pancasila. Kita semua sepakat bahwa Pancasila merupakan dasar negara dan ideologi yang mempersatukan kita semua sebagai warga bangsa. Negeri ini bisa berdiri kokoh dan mampu merawat kebhinnekaannya, karena kita masih meyakini Pancasila sebagai common platform kita untuk bersama-sama mewujudkan cita-cita dan mimpi para pendiri bangsa. Pertanyaan yang selalu muncul, apakah Pancasila bertentangan dengan Islam? Bagaimana hubungan antara Pancasila dengan gagasan Negara Islam (Dawlah Islamiyyah)?

Kiai Afif dengan nalar khas pesantren mencoba memberikan sumbangsih pemikiran agar setidak-tidaknya warga NU tidak ada keraguan sedikit pun untuk menerima Pancasila. Memang, sedari awal NU sudah menegaskan sebagai garda terdepan penjaga Pancasila. Menjaga Indonesia berarti menjaga Pancasila agar tegak kokoh menjadi common platform seluruh warga bangsa.

Menurut para ulama NU, Pancasila tidak bertentangan dengan Syariat Islam. Tugas kita bukan lagi mempertentangkan Pancasila dan Syariat Islam, melainkan justru mengamalkan Pancasila dalam kehidupan berbangsa dan bernegara. Pancasila harus menjadi ideologi yang hadir dan dirasakan langsung oleh setiap warga (working ideology). Karenanya, Pancasila bersifat final, tidak perlu dipertanyakan lagi posisinya sebagai ideologi dan dasar negara.

Dalam hal ini, Kiai Afif menggarisbawahi Pancasila sebagai racikan sempurna yang dapat memberikan solusi bagi terwujudnya demokrasi yang berkualitas di tengah kemajemukan warga, baik dari segi agama, suku, bahasa, dan afiliasi politik. Dalam kacamata ilmu politik modern, Pancasila berhasil memberikan arahan yang jelas, kokoh, dan kongkrit perihal tujuan berdemokrasi. Demokrasi hakikatnya bukan hanya sekadar menggelar pemilu yang adil, jujur, transparan, dan akuntabel, melainkan lebih jauh dari itu memastikan agar demokrasi dapat membuahkan hasil yang maksimal bagi kesejahteraan dan keadilan sosial. Sebab itu, puncak dari Pancasila adalah keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia.

Pancasila sejatinya menjadi kiblat kita dalam berdemokrasi. Demokrasi yang kita bangun harus membangun harmoni yang bersumber dari cahaya Ilahi. Demokrasi yang menjunjung tinggi kemanusiaan dan keadaban. Demokrasi yang mepersatukan kita sebagai bangsa. Demokrasi yang dibangun di atas prinsip permusyawaratan dan kebijaksanaan. Demokrasi yang mampu mewujudkan keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia.

Kiai Afif secara eksplisit menyebutkan bahwa Pancasila akan mampu menjadikan Indonesia sebagai negara modern yang berkarakter relijius, karena Pancasila sejalan dengan jiwa dan karakter bangsa yang berketuhanan. Dalam hal ini, Negara Pancasila menurut Kiai Afif adalah negara yang islami. Ia menegaskan, “Pancasila merupakan dasar negar, bukan Syariat. Namun sila demi sila di dalamnya tidaklah bertentangan dengan ajaran Syariat, bahkan sejalan dengan syariat itu sendiri.” Maka dari itu, menurut Kiai Afif, “sebagai dasar negara, Pancasila wajib dijadikan acuan dan pedoman dalam pembuatan ketentuan hukum dan perundang-undangan pada berbagai levelnya.”

Lebih lanjut, menurut Kiai Afif, Indonesia menjadi Negara Pancasila dan bukan Negara Islam adalah bukan sebuah persoalan. Sebab yang terpenting adalah substansi dan hakikat, bukan cap dan format. Negara Pancasila justru lebih aman bagi umat Islam karena tidak akan menimbulkan sentimen keagamaan. Ia merujuk pemberian gelar, waliyyul amri al-dharury bi al-syawkah kepada Bung Karno merupakan ijtihad para ulama tentang keabsahan kepemimpinan Bung Karno sekaligus dukungan penuh terhadap Negara Pancasila.

Jauh sebelum lahirnya Pancasila, bahkan sembilan tahun sebelum Indonesia merdeka, para ulama NU dalam muktamar ke-XI di Banjarmasin yang digelar pada tahun 1936 menegaskan Nusantara sebagai kawasan Islam (dar al-Islam). Menurut Kiai Afif, pilihan diksi dar al-Islam bukan Dawlah Islamiyyah (Negara Islam) dapat menginspirasi kita, bahwa Indonesia adalah negara damai, karena warganya hidup berdampingan dengan damai di tengah keragaman. Di dalam kita Bughyah al-Mustarsyidin ditegaskan, bahwa sebuah negara yang penduduknya hidup damai dan tidak melakukan peperangan dalam jangka waktu yang panjang, maka wilayah tersebut dapat disebut dar Islam.

Maka dari itu, Negara Pancasila yang di dalamnya setiap warga bisa hidup berdampingan dengan damai di tengah keragaman dapat disebut sebagai dar Islam. Kita tidak perlu lagi menggaungkan Negara Islam (Dawlah Islamiyyah) dengan berbagai modus operandinya dan khilafah ala Hizbut Tahrir Indonesia, karena Negara Pancasila sudah sejalan dengan substansi Syariat Islam.

Kedua, perlu pengarusutamaan moderasi Islam. Kita memaklumi bersama, bahwa fundamentalisme, radikalisme, dan ekstremisme berjubah agama terus menjadi fenomena yang marak dan tak bisa dibendung lagi. Ini menjadi alarm bagi umat Islam Indonesia. Kelompok mayoritas yang moderat harus bersuara lantang, karena mereka yang menabuh genderang radikalisme dan ekstremisme jauh lebih lantang.  

Kiai Afif secara khusus menyatakan, bahwa sikap moderat (wasathiyyah) dalam beragama merupakan citarasa Islam Nusantara. Kita harus kokoh dan konsisten menyebarluaskan dan mengamalkan Islam yang moderat itu. Yaitu Islam yang di dalamnya mengambil jalan tengah (tawassuth), berkeadilan (‘adalah), dan berkeseimbangan (tawazun).

Menarik sekali ketika Kiai Afif mengetengahkan moderasi sebagaimana ditunjukkan dalam Syariat Islam. Dalam hukum Islam misalnya, Kiai Afif menegaskan bahwa memang hukum Islam bersumber dari Allah SWT, dan karenanya bernuansa ketuhanan (ilahiyyahi). Tetapi kita tidak bisa mengabaikan fakta, bahwa hukum Islam juga mempunyai dimensi kemanusiaan (insaniyyah), karena bertujuan untuk memenuhi kepentingan dan mewujudkan kesejahteraan umat manusia secara lahir dan batin, baik di dunia maupun di akhirat.

Nalar moderat juga meniscayakan adanya keseimbangan antara teks dan kemaslahatan. Pada dasarnya antara keduanya saling berkait kelindan, bahkan menjadi kesatuan yang tidak terpisahkan. Para ulama menggarisbawahi perihal maqashid al-syariah dan al-kulliat al-khamsah dalam rangka memberikan pendasaran metodologis dan teoritis dalam memahami hukum Islam.

Kiai Afif tidak lelah mengingatkan kita semua agar memahami ajaran Islam secara moderat, sehingga agama hadir dalam wajahnya yang ramah, toleran, dan membebaskan. Islam tidak dibajak untuk kepentingan tafsir otoriter dalam memapankan otoritarianisme.

Masih banyak lagi pikiran-pikiran Kiai Afif yang bisa diekplorasi dalam rangka menghadirkan dan menggerakkan tradisi, baik dalam konteks internal NU maupun dalam konteks keindonesiaan dan kemanusiaan universal. Intinya, kelompok moderat harus aktif mengetengahkan pikiran-pikiran mencerahkan dalam rangka menjaga keberlangsungan Indonesia yang ramah dan toleran ini.

Saya pribadi ada beberapa hal yang tidak sependapat dengan pemikiran Kiai Afif, tetapi semua itu luruh dalam samudera kearifan dan kebeningan hatinya. Kiai Afif adalah sosok kiai dan ulama panutan yang ketika menyampaikan pesan dan pemikiran selalu menggunakan lisanul hal melebihi lisanul maqal. Kearifannya melampaui kedalaman ilmunya. Maka dari itu, tidak aneh jika pandangan-pandangan Kiai Afif bisa landing secara mulus dalam forum-forum besar di lingkungan Nahdlatul Ulama.

Terakhir, saya sangat mengapresiasi Universitas Islam Negeri Walisongo, Semarang yang akan memberikan gelar doktor kehormatan (Doctor Honoris Causa) kepada Kiai Afif. Hal tersebut merupakan tradisi keilmuan yang sangat baik, karena pesantren banyak menyimpan mutiara keilmuan yang sudah terbukti mewarnai wajah moderasi Islam di negeri ini. Kiai Afif di antara kiai-kiai dan ulama yang pantas mendapat gelar kehormatan tersebut. Alfu mabruk Kiai Afif…

Share and Enjoy !

0Shares
0 0

Last modified: Oktober 21, 2020

Comments are closed.