IMAM ALI BIN ABI THALIB: CINTA TUHAN PADA MANUSIA BERMULA DARI PENCIPTAAN NABI ADAM, PARA NABI DAN RASUL, HINGGA NABI MUHAMMAD (3)

117

Written by:

Manusia itu terdiri dari dua golongan: saudara seagama atau sahabat ciptaan Tuhan

Ungkapan Imam Ali bin Abi Thalib ini sangat populer tidak hanya bagi umat Islam, melainkan juga digaungkan umat agama-agama yang lain, dari Timur hingga Barat. Mutiara kearifan Imam Ali melanglang buana di seantero alam raya laksana embun di pagi hari yang menyejukkan jiwa-jiwa suci dan kalbu yang mendapatkan pancaran ilahi.

Imam Ali bin Abi Thalib selalu mengingatkan kita pada dimensi kemanusiaan yang merupakan identitas primordial setiap insan, dan karenanya kita mesti  mengingatnya sepanjang masa. Apa artinya hidup ini jika tidak mengenali kembali asal-muasal dan nenek moyang kita, sehingga Tuhan memberikan predikat “khalifah” kepada kita, wakil Tuhan di muka bumi. Di dalam al-Quran, Tuhan berfirman, Sungguh Kami memuliakan keturunan Adam (QS al-Isra [17]: 289).

Ya, sebagai makhluk Tuhan, kita semua mulia. Kita tidak perlu mengemis kemuliaan dari siapa pun, karena sessungguhnya Tuhan sudah memuliakan kita. Tugas kita hanya memahami makna di balik penciptaan manusia, dan terus mengingatnya, sehingga kita tidak terjerumus dalam kubangan ketidakmanusiaan.

Imam Ali bin Abi Thalib di dalam Nahjul Balaghah mengisahkan dengan indah perihal penciptaan Nabi Adam agar kita tidak kehilangan citarasa kemanusiaan yang Tuhan anugerahkan kepada kita, pun agar kita tidak terjerumus dalam citarasa kebinatangan. Berapa banyak dari kita yang secara fisik sebagai manusia, tapi lisan dan tindakan kita bahkan lebih rendah dari binatang sekalipun. Yang keluar dari lisan kita adalah kata-kata yang merendahkan kemanusiaan, dan tindakan kita pun sangat tidak manusiawi.

Ironisnya, sebagian mereka yang mengklaim sebagai keturunan Nabi pun sangat jauh dari akhlak Nabi Muhammad SAW. Mereka kerap tidak mencerminkan akhlak Nabi, karena lisannya berlumuran dengan kebencian, hasrat kuasa dan hasrat harta. Mereka sama sekali tidak merujuk pada keteladanan Nabi dan keluarganya.

Imam Ali bin Abi Thalib memberikan resep mujarab kepada kita agar senantiasa mengingat dimensi kemanusiaan melalui proses penciptaan Nabi Adam yang begitu menakjubkan. Tuhan menciptakan manusia dari tanah, menyusunnya menjadi kerangka tubuh yang utuh, lalu meniupkan ruh, sehingga membentuk keseimbangan antara jiwa dan raga. Nabi Adam dapat menggunakan akal dan hati nuraninya untuk menentukan jalan yang baik dan menghindari jalan yang buruk.

Menurut Imam Ali bin Abi Thalib dalam Nahjul Balaghah, sebagai bentuk cinta Tuhan kepada manusia, Nabi Adam langsung ditempatkan di surga. Tempat yang menjadi tujuan dan keinginan setiap makhluk-Nya. Sebagai bentuk keistimewaan Nabi Adam, lalu Tuhan memerintahkan Malaikat untuk bersujud kepada Nabi Adam.

Dalam pembahasan sebelumnya, Imam Ali bin Abi Thalib menyebutkan betapa mulianya Malaikat karena ketaatan yang sempurna kepada Tuhan. Malaikat mempunyai tugas khusus menjaga alam raya, menjaga hamba Tuhan, dan menyampaikan wahyu kepada utusan-Nya. Tetapi saat Malaikat diperintahkan Tuhan untuk bersujud kepada Nabi Adam, mereka pun langsung sujud sebagai penghormatan terhadap Nabi Adam yang berpredikat sebagai khalifah, wakil Tuhan di muka bumi.

Namun, Tuhan mengingatkan kepada kita semua, bahwa sebagai wakil Tuhan, Nabi Adam akan selalu digoda oleh iblis yang sejak awal menolak bersujud, karena keangkuhannya. Iblis pula yang menyebabkan Nabi Adam turun ke bumi, karena tergoda memakan buah khuldi. Meskipun demikian, Tuhan masih membuka pintu taubat kepada Nabi Adam, dan rahmat-Nya akan membawanya kembali ke surga. Dan Nabi Adam pun beranak-pinak mempunya keturunan yang sangat  banyak, tak terhitung jumlahnya.

Pesan moral yang hendak disampaikan Imam Ali bin Abi Thalib di dalam Nahjul Balaghah adalah kita semua adalah keturunan Nabi Adam. Semua umat, semua bangsa, dan semua suku adalah keturunan Nabi Adam. Kita mestinya harus bersaudara, bersahabat, dan saling bahu-membahu. Tidak ada yang membeda-membedakan status kita, kecuali ketakwaan kita kepada Tuhan. Di dalam al-Quran ditegaskan, Wahai manusia, sesungguhnya kami ciptakan laki-laki dan perempuan, serta menjadikan kalian berbangsa-bangsa dan bersuku-suku agar kalian saling berkolaborasi, dan sesungguhnya orang yang paling mulia di antara kalian adalah mereka yang paling bertakwa (QS. Al-Hujurat [49]: 13)

Sebagai bentuk cinta Tuhan kepada Nabi Adam dan keturunannya, Tuhan juga menurunkan para Nabi dan utusan yang dilengkapi dengan Kitab Suci dan argumen yang kokoh. Sejak masa lampau hingga sekarang ini, umat manusia tidak pernah mengalami kekosongan pedoman hidup, baik dari Kitab Suci maupun sosok yang mengarahkan pada kebajikan. Itulah ekspresi cinta Tuhan kepada keturunan Adam.

Pada puncaknya, kita umat Islam diutus seorang Nabi dan Rasul, Muhammad SAW. Menurut Imam Ali bin Abi Thalib, Nabi Muhammad SAW merupakan janji Tuhan kepada manusia sebagai kenabian yang sempurna. Beliau melanjutkan ajaran Nabi-Nabi terdahulu dengan tanda-tanda yang sangat sempurna. Kelahirannya pun ditandai dengan peristiwa besar. Tuhan meridhai kehadiran Nabi Muhammad SAW di muka bumi untuk menyelamatkan umatnya dari berbagai marabahaya dan petaka.

Itulah penggambaran Imam Ali bin Abi Thalib yang sangat indah tentang penciptaan Nabi Adam, kehadiran para Nabi dan Rasul, hingga diutusnya Nabi Muhammad SAW agar kita semua menyadari betapa eksistensi kita sebagai manusia adalah bagian dari cinta Tuhan. Tanpa Tuhan, kita bukan apa-apa dan bukan siapa-siapa. Dan cara terbaik menunjukkan pengenalan kita pada Tuhan dengan sepenuh hati meyakini, tulus, dan bertakwa. Sebab yang paling mulia di sisi Tuhan adalah mereka yang paling bertakwa kepada-Nya.

Share and Enjoy !

0Shares
0 0

Last modified: November 29, 2020

Comments are closed.