IMAM ALI BIN ABI THALIB: KEFASIHAN DAN KETELADANAN

153

Written by:

Dalam sebuah hadis, Nabi berpesan kepada kita semua, “Aku adalah kota ilmu, dan Imam Ali bin Abi Thalib adalah pintunya. Dalam nasehat yang sama, Nabi bersabda, “Aku adalah pusat hikmah, dan Imam Ali bin Abi Thalib adalah pintunya”. Dan masih banyak lagi perihal keutamaan dan keistimewaan Imam Ali yang direkam dalam buku Fadhail Imam Ali bin Abi Thalib.

Sosok Imam Ali bin Abi Thalib sangat mentereng dan menjulang dalam sejarah Islam sebagai milenial awal yang memeluk Islam dan tumbuh sebagai keluarga Nabi dalam maknanya yang hakiki. Sejak masih belia, Nabi Muhammad SAW selalu menimang dan menggendong Imam Ali. Nabi kerap mencumbu dan meletakkan Imam Ali di atas dadanya. Nabi kerap mengelus-ngelus badan Imam Ali dan memperlakukannya layaknya putera sendiri.

Saat Nabi kerap mendatangi dan menyendiri di Gua Hira, Imam Ali selalu mendampinginya. Dan tidak ada seorang pun yang mengetahui peristiwa spiritual tersebut, kecuali Imam Ali bin Abi Thalib. Ia tumbuh dalam suasana Islam awal yang tidak pernah dirasakan oleh siapapun. Ia melihat langsung cahaya wahyu dan kerasulan. Ia juga sosok yang pertama mencium aroma kenabian.

Dalam banyak riwayat disebutkan, bahwa Nabi kerapkali mendektekan wahyu al-Quran saat turun kepada Imam Ali bin Abi Thalib. Bahkan, tidak ada satu ayat pun yang tidak dilewatkan oleh Imam Ali saat turun. Sebab itu, Imam Ali pernah berkata, “tanyakanlah kepadaku tentang al-Quran sebelum kalian kehilangan aku untuk selama-lamanya.”

Ungkapan Imam Ali bin Abi Thalib yang sangat terkenal ini menjadi episentrum dari apa yang umat hadapi saat ini. Kita terlihat gamang dalam memahami al-Quran. Hal itu diantaranya karena sejak dahulu kita tidak menimba samudera pemahaman dari Imam Ali. Kita memahami al-Quran dari tafsir yang ditulis oleh para ulama yang hidupnya sangat berjarak dengan zaman turunnya wahyu al-Quran.

Memang, Imam Ali bin Abi Thalib dan khazanahnya sudah lama kita abaikan. Kita sangat berjarak dengan khazanah keilmuan dan keteladanan Imam Ali. Di pesantren, sekolah, dan majlis-majlis ilmu, kita tidak banyak mengenal khazanah keilmuan Imam Ali. Saya sendiri beruntung mengenal sebagian khazanah keilmuan Imam Ali melalui buku-buku KH. Jalaluddin Rakhmat, di antaranya Islam Aktual dan Islam Alternatif yang dalam pembahasannya kerap merujuk pada hadis-hadis Nabi yang diriwayatkan Imam Ali dan mutiara-mutiara hikmah Imam Ali yang sangat bergizi tinggi. Buku-buku itu saya baca saat masih mondok di pesantren.

Maka dari itu, saatnya kita mengenal khazanah Imam Ali bin Abi Thalib lebih mendalam lagi. Saya berpandangan, perlu kiranya kita mengaji dan mengkaji kitab monumental Imam Ali, Nahjul Balaghah. Kita sejatinya mengenal dan memahami Islam dari sumber yang paling dekat dengan Nabi Muhammad SAW.

Selama ini kita dikenalkan pada jargon kembali kepada al-salaf al-shalih. Jargon ini banyak menarik perhatian umat sebagai bagian upaya kembali kepada sumber khazanah dan sejarah Islam yang jernih. Menurut saya, kembali kepada al-salaf al-shalih sejatinya kembali kepada khazanah Imam Ali bin Abi Thalib, karena di dalamnya memuat kefasihan dan keteladanan. Mengapa kita umat Islam membutuhkan keteladanan dan kefasihan?

Umat Islam saat ini sedang mengalami krisis dalam dua hal tersebut. Pertama, krisis kefasihan. Kita sebenarnya mempunyai al-Quran dan Sunnah Nabi yang di dalamnya berisi untaian kalimat dan kata yang bernuansa sastrawi, yang indah dan memikat hati. Hanya saja, masalahnya kefasihan al-Quran dan Sunnah Nabi tidak menjadi bagian dari kefasihan umat dalam menggunakan kata dan kalimat dalam kehidupan sehari-hari.

Di dalam sebuah hadis, Nabi berpesan, Seorang Muslim adalah seorang yang bisa menjaga lisan dan tangannya (HR. Bukhari dan Muslim). Seorang Muslim hendaknya bisa menjaga lisannya dari kata-kata kotor, kasar, dan tidak pantas. Itu maknanya, kefasihan kata menjadi salah satu ciri seorang Muslim. Sebab itu, dalam kebudayaan Arab, kefasihan menjadi salah satu prasyarat puncak keilmuan seseorang.

Dalam hal ini, Imam Ali bin Abi Thalib menjadi sosok yang paling menonjol dalam hal kefasihan. Syarif Radhi (970-1015) sebagai sosok yang berjasa dalam mengumpulkan catatan Imam Ali memberikan nama khusus, Nahjul Balaghah. Buku ini menjadi khazanah yang sangat berharga karena mengajarkan kita agar menggunakan kata dan kalimat sefasih mungkin, sehingga pesan sampai ke dalam kalbu dan menggerakkan hati nurani untuk melapangkan jalan kebenaran, kebajikan dan kemaslahatan.

Menurut Syarif Radhi, pemberian judul Nahjul Balaghah sebagai jalan penyingkapan atas siapapun yang hendak mengetahui pintu-pintu kefasihan dan mendekatkan diri pada kefasihan. Setiap ilmuan dan pembelajar sangat membutuhkan kefasihan, termasuk mereka yang menghendaki jalan bagi asketisme. Kefasihan merupakan jalan untuk menyelami ketauhidan dan keadilan. Bahkan, kefasihan akan mampu menyingkap keesahan Tuhan dari berbagai kunkungan dan syubhat.

Kefasihan dalam khazanah Islam menjadi prasyarat mutlak bagi seseorang yang hendak menapaki samudera keilmuan Islam. Sebab, pesan-pesan keislaman tidak akan sampai kepada khalayak jika tidak disampaikan dengan untaian kata dan kalimat yang di dalamnya mengandung keindahan dan kedalaman makna.

Imam Ali bin Abi Thalib hendaknya mengajarkan kepada kita semua agar pesan-pesan keislaman disampaikan dengan medium yang fasih. Ada pepatah yang berbunyi, al-thariqah ahammu minal maddah. Pesan ini terasa sangat tepat untuk menggambarkan pesan Imam Ali di dalam Nahjul Balaghah, bahwa pesan-pesan yang baik saja tidak cukup, dibutuhkan medium bahasa yang fasih, sehingga pesan tersebut sampai ke lubuk hati yang paling dalam.

Nah, dalam konteks kekinian, kita melihat betapa ceramah-ceramah keagamaan dipenuhi dengan pesan-pesan yang kasar, kotor, dan ekstrem yang sangat jauh dari nuansa dan aroma kefasihan. Selain karena ada hasrat kekuasaan, tetapi Islam tidak dipahami melalui pintunya. Sosok dan khazanah Imam Ali bin Abi Thalib sangat lama disingkirkan dan dijauhkan dari nalar keislaman kita. Akibatnya yang keluar dari lisan sebagian pendakwah kita adalah kata-kata dan kalimat yang sangat tidak pantas, sehingga Islam kehilangan keindahannya. Mimbar keagamaan digunakan sebagai mimbar agitasi dan menebarkan kebencian, bahkan sangat jauh dari esensi Islam yang mengajarkan keramahtamahan dan kesantunan.

Imam Ali bin Abi Thalib mengajarkan kepada kita, bahwa kefasihan merupakan jalan menuju Islam yang ramah, toleran, dan moderat. Tanpa kefasihan, kita tidak akan menemukan keindahan Islam, dan kita akan dijauhkan dari esensi Islam.

Kedua, krisis akhlak dan budi pekerti. Kita semua mengimani, bahwa Nabi Muhammad SAW adalah mata air akhlak. Di dalam al-Quran disebutkan, Sungguh dalam diri Rasulullah SAW terdapat keteladanan yang mulia (QS. Al-Ahzah [33]: 21). Di dalam surat al-Qalam ayat 4 disebutkan, Sesungguhnya engkau Muhammad dalam puncak akhlak.

Kita beruntung menjadi umat Nabi Muhammad SAW karena dapat bercermin pada keteladanannya yang sangat melimpah. Namun kita sering lupa, bahwa Imam Ali bin Abi Thalib merupakan pintu akhlak Nabi. Ia menjadi sosok yang konsisten menyertai Nabi dalam segala hal, termasuk dalam akhlak. Ia meletakkan kepentingan bersama, kepentingan umat, di atas kepentingan pribadi dan kelompoknya. Ia memilih jalan ilmu sebagai jalan untuk menunjukkan Islam yang al-hanifiyyah al-samhah. Jalan yang lurus dan toleran.

Di dalam Nahjul Balaghah, kita akan mendapatkan sebongkah akhlak dan keteladanan Imam Ali bin Abi Thalib yang disarikan langsung dari Nabi Muhammad SAW atas pancaran cahaya wahyu ilahi. Imam Ali berpesan kepada kita tentang lima akhlak yang setidaknya kita miliki. “Saya berwasiat kepada kalian lima hal: hendaklah berharap sesuatu hanya kepada Allah SWT, takut melakukan dosa, jika ditanya dan tidak tahu hendaknya jujur menjawab ‘saya tidak tahu’, jika tidak mengetahui sebuah masalah hendaklah mempelajarinya, dan bersabar karena sabar adalah modal keimanan.”

Walhasil, mengaji dan mengkaji kitab Nahjul Balaghah merupakan sebuah keniscayaan. Kita harus mendekatkan lagi pada sosok dan khazanah Imam Ali bin Abi Thalib, sebab dalam dirinya mengalir ajaran Rasulullah SAW yang jernih dan bersih. Kita sudah lama dijauhkan dengan Imam Ali. Dan untuk itu, saya dan KH. Miftah Fauzi Rakhmat akan memulai langkah yang berat ini untuk berbagi tentang kefasihan dan keteladanan Imam Ali bin Abi Thalib, dengan mengaji secara daring dan tuntas kitab Nahjul Balaghah, sehingga kita semakin dekat dengan ajaran Rasulullah SAW. Bismillah…

Share and Enjoy !

Shares

Last modified: November 19, 2020

Comments are closed.