IMAM ALI BIN ABI THALIB: LARANGAN MENEBARKAN FITNAH (8)

71

Written by:

Wahai manusia, belahlah gelombang-gelombang fitnah dengan perahu-perahu keselamatan, jauhi perpecahan dan letakkan mahkota egoisme

Petikan khutbah ini disampaikan Imam Ali bin Abi Thalib setelah Abu Bakar al-Shiddiq dikukuhkan sebagai khalifah Nabi Muhammad SAW. Alkisah, setelah Nabi wafat, Imam Ali dan keluarganya masygul dengan proses pemakaman. Sementara para sahabat yang lain, khususnya Abu Bakar al-Shiddiq dan Umar bin Khattab justru mengadakan pertemuan di Saqifah Bani Sa’idah, yang tidak dihadiri oleh Bani Hasyim. Mereka bermufakat untuk memilih dan menunjuk Abu Bakar al-Shiddiq sebagai pemimpin penerus Nabi (khalifah al-nabi).

Peristiwa tersebut telah menimbulkan fitnah di awal-awal perjalanan Islam paska-Nabi, bahkan dampaknya masih terasa hingga sekarang ini. Abu Sufyan mendatangi Imam Ali bin Abi Thalib, sembari berkata, “Aku melihat sebuah api ketidakberesan, dan tidak akan bisa dipadamkan kecuali dengan darah. Bentangkan tanganmu, aku akan berbaiat kepadamu. Aku pastikan banyak orang yang akan mengikuti jejakmu.”

Imam Ali bin Abi Thalib menggunakan mata batin, dan merespons baiat dari Abu Sufyan sembari berkata, “Demi Allah, apa yang kamu lakukan saat ini hanya akan menimbulkan fitnah. Jika nasehatmu akan berdampak buruk bagi Islam, aku sama sekali tidak membutuhkan ajakan seperti itu.”

Kemudian, Imam Ali bin Abi Thalib berpidato di depan khalayak ramai agar langkah yang diambil Abu Sufyan itu tidak menjadi bah fitnah yang dapat memecahbelah umat, yang berdampak buruk bagi persatuan dan persaudaraan umat Islam. Imam Ali berpidato, “Wahai manusia, belahlah gelombang-gelombang fitnah dengan perahu-perahu keselamatan, jauhi perpecahan dan letakkan mahkota egoisme.”

Imam Ali bin Abi Thalib memberikan perumpaan fitnah seperti gelombong ombak yang sangat besar, sehingga dapat menggaggu laju perahu-perahu yang akan berlayar. Maklum, setelah wafatnya Nabi, umat Islam menghadapi tantangan yang tidak mudah, baik dari internal maupun eksternal. Di lingkungan internal sendiri, tantangan muncul secara tak terkira, karena pertemuan di Saqifah Bani Sa’idah telah memutuskan Abu Bakar al-Shiddiq sebagai khalifah. Sedangkan di lingkungan eksternal akan semakin banyak tantangan dari mereka yang tidak ingin melihat umat Nabi Muhammad SAW bersatu-padu.

Maka dari itu, diperlukan sebuah kearifan untuk meredam fitnah yang akan menyebabkan perpecahan di antara umat Islam. Imam Ali bin Abi Thalib mengajak seluruh umat dengan menggunakan kata yang sangat khusus, “Wahai manusia”. Ia ingin menggugah dimensi kemanusiaan yang paling dalam, yaitu hati nurani. Saat persaingan dan perebutan kekuasaan, biasanya hati nurani ditanggalkan. Saat itu pula, nilai-nilai keislaman sebagaimana diajarkan dan diteladankan Nabi pun dialpakan.

Imam Ali bin Abi Thalib mengajak umat Islam pada saat itu agar mempersiapkan perahu-perahu keselamatan, yaitu mengedepankan kemaslahatan, persaudaraan, dan persatuan. Perahu-perahu keselamatan adalah perintah Allah SWT yang bersifat universal, yang sejatinya dipedomani oleh siapapun yang menghendaki hidupnya penuh keberkahan dan keselamatan. Lebih-lebih umat Islam setelah wafatnya Nabi memerlukan soliditas dan solidaritas bersama yang kukuh. Sebab itu, perpecahan dan egoisme kelompok harus ditanggalkan jauh-jauh.

Imam Ali bin Abi Thalib menggambar dua dilema dalam dirinya menghadapi situasi pelik pada saat itu. Apakah harus mengambil langkah agresif dengan mengeluarkan seluruh daya untuk melakukan perlawanan atau justru memilih jalan damai, sehingga tidak ada beban dan dampak buruk yang lebih menyakitkan. Pada intinya, persaudaraan dan persatuan umat Islam harus didahulukan. Sikap Imam Ali ini kemudian dikenal sebagai “mazhab persatuan dan persaudaraan” dalam sejarah peradaban Islam.

Imam Ali bin Abi Thalib memberikan teladan yang luar biasa bagi kita semua. Jika selama ini kita terjebak dalam mazhab politik dan mazhab fikih yang tidak jarang menimbulkan perpecahan di antara sesama Muslim, maka sejatinya kita harus mengedepankan persaudaraan dan persatuan di atas segala-galanya. Dalam banyak hal, kita umat Islam akan sering berbeda, tetapi perbedaan tersebut mestinya tidak membuat kita terpecah-belah dan berkonflik, apalagi hingga menumpahkan darah.

Meskipun demikian, Imam Ali bin Abi Thalib menggambarkan kekhilafahan Abu Bakar al-Shiddiq laksana air yang kotor yang sama sekali tidak bisa diminum dan makanan busuk yang membahayakan penikmatnya. Ia juga menjelaskan, bahwa kekhilafahan tersebut laksana orang-orang yang memetik buah sebelum matang dan bercocok tanam di lahan yang terlarang.

Imam Ali bin Abi Thalib benar-benar berada di persimpangan. Jika ia memaksakan diri untuk meraih kursi kekhilafahan, ia khawatir disebut haus kekuasaan. Tetapi jika diam, ia dianggap tidak mempunyai keberanian untuk menjemput maut. Padahal ia dikenal sebagai pemuda pemberani yang sudah teruji di medan perang bersama Nabi. Sekali lagi, Imam Ali menegaskan, bahwa ia sama sekali tidak takut pada kematian. Hidupnya dilalui dengan perjuangan dan pengorbanan. Ia mengibaratkan kematian laksana bayi yang selalu menyusui ibunya. Keduanya tak terpisahkan.

Itulah sosok Imam Ali bin Abi Thalib yang memberikan keteladanan bagi kita semua untuk mengedepankan kemaslahatan, persatuan, dan persaudaraan. Ia rela berkorban agar ajaran Allah SWT, Rasulullah SAW, dan keluarganya senantiasa abadi, meskipun ia harus menanggalkan kekhilafahan yang telah dititahkan Nabi. Ia tidak ingin menumpahkan darah, karena jika itu dilakukan, maka akan sangat menodai ajaran Nabi yang mengedepankan persaudaraan di antara sesama Muslim. Madinah menjadi saksi sejarah, bahwa hijrah Nabi dari Mekkah dimulai dengan persaudaraan antara kaum Muhajirin dan Anshar. Dan akhlak ini harus terus menyala dan berkobar dalam hati sanubari umat Islam setelah wafatnya Nabi. Sebisa mungkin umat Islam dapat menjauhi fitnah, dan tidak menyebarluaskannya. Sebab, jika hal itu terjadi, maka akan mengakibatkan perpecahan di antara umat Islam. Hari-hari ini kita semua rindu pada sikap Imam Ali bin Abi Thalib tersebut. Mari kita bangun mazhab persaudaraan dan persaudaraan.

Share and Enjoy !

0Shares
0 0

Last modified: Januari 5, 2021

Comments are closed.