IMAM ALI BIN ABI THALIB: MENGAGUNGKAN ALLAH SWT DAN MEMULIAKAN MALAIKAT (2)

116

Written by:

Imam Ali bin Abi Thalib bersama kebenaran dan kebenaran bersama Imam Ali, keduanya tidak akan berpisah, sehingga keduanya menemuiku di sebuah taman surga

Hadis ini terpampang di pintu masuk menuju makam Imam Ali bin Abi Thalib di Najaf, Irak. Sebuah kota yang selalu ramai dikunjungi peziarah dari berbagai penjuru dunia. Saya, alhamdulillah, sudah berziarah ke Imam Ali, sang gerbang ilmu Nabi Muhammad SAW. Masih terngiang memasuki kawasan suci tempat peristirahatan terakhir Imam Ali di kota Najaf dalam suasana Arba’in, putera tersayangnya, Imam Husein bin Ali bin Abi Thalib, cucu Nabi.

Berziarah ke makam Imam Ali bin Abi Thalib akan menyisakan kesan dan pesan yang luar biasa. Apalagi malam itu, saya membawa kitab Nahjul Balaghah, berisi khutbah, surat, dan pesan-pesan bijak Imam Ali. Buku yang saya bawa pun ikut menyentuh makam Imam Ali, bertawashshul, sehingga saat membacanya diharapkan mendapatkan keberkahan dan pesan-pesannya sampai ke dalam relung hati yang paling dalam.

Sepanjang malam hingga jelang subuh, saya terhanyut dalam bait-bait kata dan kalimat yang sangat indah yang memenuhi kitab Nahjul Balaghah, dan setelah tiba di penginapan di depan makam Imam Kumail, murid setia Imam Ali bin Abi Thalib pada pagi hari, saya langsung menulis sebuah tulisan untuk portal www.detik.com, Pesan Imam Ali bin Abi Thalib untuk Indonesia. Kebetulan momen saat itu jelang pengumuman Kabinet Indonesia Kerja, sehingga secara khusus saya mencari keberkahan dari Imam Ali melalui ziarah makam dan ziarah kitab.

Kitab Nahjul Balaghah menjadi sebuah kitab yang sangat penting bagi umat Islam, karena di dalamnya termuat pesan-pesan penting bagi bangunan keislaman kita. Imam Ali bin Abi Thalib di dalam kitab ini hendak menggugah kesadaran keislaman kita agar berpijak pada fundamen keimanan yang kukuh. Sebab tanpa fundamen keimanan, maka keislaman kita akan kehilangan pijakan yang benar dan baik.

Maka dari itu, Imam Ali bin Abi Thalib mengajak kita untuk senantiasa mengucapkan kalimat, Alhamdulillah, segala puji bagi Allah SWT. Kalimat yang sejatinya dapat menjadi alarm bagi kita umat Islam untuk membangun kesadaran kolektif, bahwa sesungguhnya kita semua adalah ciptaan Allah SWT, wakil Allah SWT, dan hamba Allah SWT. Memuji Allah SWT akan mengingatkan kita semua sebagai manusia dhaif, lemah. Di mata Allah SWT kita bukan siapa-siapa dan tidak memiliki apa-apa. Keagungan sejatinya hanya milik Allah SWT, bukan kita, hamba-Nya.

Imam Ali bin Abi Thalib memulai pesannya dengan kalimat yang sangat sederhana, titik-tolak agama adalah mengenal Allah SWT (awwaluddin ma’rifatuhu). Jika kita mengaku benar-benar beragama Islam, tetapi kita tidak mengenal Allah SWT, sesungguhnya klaim keislaman kita hanya sia-sia belaka.

Yang dimaksud dengan mengenal Allah SWT, menurut Imam Ali bin Abi Thalib adalah meyakini, mengesakan, tulus, dan menjauhkan Allah SWT dari sifat-sifat yang tidak pantas dilekatkan dengan-Nya. Pesan ini mempunyai konteks tersendiri dalam perjalanan hidup Imam Ali, karena dalam realitasnya begitu banyak mereka yang mudah mengklaim dan mengatasnamakan Allah SWT, tetapi dalam kenyataannya itu hanya di lisan belaka, tidak menghujam ke relung hati yang terdalam.

Akibatnya, Tuhan hanya dijadikan sebagai instrumen komodifikasi dan alat justifikasi kepentingan politik. Imam Ali bin Thalib mempunyai pesan yang sangat penting sebagai kritik terhadap Khawarij, yang saat itu kerap meneriakkan, la hukma illlallah, tidak ada kedaulatan hanya kedaulatan Allah SWT. Imam Ali dengan sederhana mengingatkan kita dengan berpesan, kalima haqqin yuradu biha al-bathil, kalimat Khawarij itu benar, tapi mereka menggunakannya untuk tujuan yang tidak baik, bathil.

Di dalam pembuka kitab Nahjul Balaghah, Imam Ali bin Abi Thalib hendak mengajak kita untuk secara tulus dan sungguh-sungguh memuji keagungan Allah SWT. Dia yang menciptakan seluruh alam semesta dengan sempurna, penuh keindahan, dan tanpa cacat sedikitpun. Jika kita melihat alam raya, sungguh kita akan dapat merasakan keagungan Tuhan yang luar biasa.

Maka dari itu, tidak ada kalimat yang lebih tepat dan lebih pantas selain mengucapkan kalimat, Alhamdulillah. Kalimat yang muatannya sangat luar biasa, karena kita akan selalu mengagungkan Allah SWT. Jika kita melihat, air, angin, bintang, bulan, dan matahari, pasti kita akan berdecak kagum dengan keagungan Allah SWT yang luar biasa.

Saat masih kecil di kampung halaman, saya selalu diajak almarhum ayah untuk menemaninya ke pantai sembari melihat bintang-bintang yang bertaburan di langit cerah. Berbaring di atas pasir yang menyihir, saya merasakan keagungan Allah SWT, yang luar biasa itu. Saat membaca kalimat-kalimat indah Imam Ali bin Abi Thalib, imajinasi batin saya meneropong jauh ke masa-masa kecil saya di kampung halaman.

Selain itu, Imam Ali bin Abi Thalib juga mengingatkan kita agar tidak melupakan salah satu ciptaan Allah SWT yang paling taat kepada-Nya: Malaikat. Di alam raya ini ada para Malaikat yang diciptakan Allah SWT untuk menunjukkan keagungannya. Mereka adalah makhluk Allah SWT yang beribadah tiada henti, istiqamah, berada dalam loyalitas dan ketaatan yang tinggi pada-Nya. Di antara mereka ada yang menjadi penyampai wahyu kepada utusan-Nya, menjaga manusia, dan menjaga pintu surga.

Kita diperintahkan untuk memuliakan para Malaikat dengan cara meneladani ketaatan mereka kepada Allah SWT. Wujud alam raya yang dipenuhi dengan para Malaikat membuktikan betapa alama raya ini penuh dengan tanda-tanda Allah SWT agar kita selalu mengingat dan mengagungkannya dengan cara menyadari posisi kita sebagai hamba-Nya.

Sebagai makhluk, ciptaan Allah SWT, kita bukan siapa-siapa. Kita tidak diperbolehkan untuk bertindak tidak adil kepada sesama hamba Allah SWT. Sebab kita semua adalah hamba Allah SWT, yang sama-sama mempertanggungjawabkan amal perbuatan kita kepada Allah SWT. Dan tidak ada yang pantas kita lakukan selain, fastabiqul khairat, berlomba-lomba dalam kebajikan, karena melakukan kebajikan adalah tugas kita sebagai hamba Allah SWT. Sebuah kebajikan yang kita lakukan akan melahirkan kebajikan yang lain, dan kita harus memenuhi alam raya ini dengan kebajikan.

Share and Enjoy !

0Shares
0 0

Last modified: November 27, 2020

Comments are closed.