IMAM ALI BIN ABI THALIB: MENGUTAMAKAN SABAR, ISTIKAMAH MENEGAKKAN KEBENARAN, DAN MEMBANTU KAUM LEMAH (6)

64

Written by:

Posisiku dalam kekhilafahan laksana posisi lokus pada roda kincir air, mengalir darinya kemuliaan dan tidak ada seekor burung pun yang mampu menjangkauku

Ungkapan ini meluncur dari lisan Imam Ali bin Abi Thalib dalam sebuah khutbah yang dikenal dengan khutbah al-syiqsyiqiyyah. Khutbah ini banyak dikutip dan diperbincangkan sepanjang sejarah, karena berisi sesuatu yang sangat penting, perihal kekhilafan setelah wafatnya Nabi Muhammad SAW.

Imam Ali bin Abi Thalib menyebut dirinya sebagai lokus, inna mahalli minha mahall al-quthbi min al-raha. Dalam banyak riwayat, Nabi Muhammad SAW menegaskan tentang keutamaan Imam Ali dan peristiwa bersejarah di Ghadir Khum yang meneguhkan pentingnya loyalitas kepada sepupu dan menantunya itu, karena ia mempunyai kualifikasi yang seharusnya dimiliki oleh seorang pemimpin: ilmu dan akhlak.

Namun, perhelatan yang digelar di Bani Tsaqifah telah mengubah peta kepemimpinan setelah wafatnya Nabi. Abu Bakar al-Shiddiq memakai baju kekhilafahan, meski Imam Ali bin Abi Thalib telah dititahkan Nabi sebagai lokomotif yang akan menggerakkan roda kekhilafahan. Iman Ali mencermati kekhilafahan berada di pundak Abu Bakar al-Shiddiq.

Imam Ali bin Abi Thalib memilih bersikap asketis terhadap kekhalifahan. Bahkan di saat terbesit dalam dirinya untuk memilih antara melakukan perlawanan dan bersabar atas realitas yang terjadi, ia memilih untuk bersabar. Ada kekecewaan, karena dampak dari peristiwa tersebut akan menimbulkan kegelisahan dan kesengsaraan yang berlangsung lama dalam diri umat Islam. Namun, jalan sabar merupakan pilihan Imam Ali untuk menjaga ikatan persaudaraan dan persatuan umat Islam.

Ini akhlak yang sangat mulia, yang diamalkan Imam Ali bin Abi Thalib di tengah perebutan kekhilafahan pada saat itu. Imam Ali memilih jalan kemaslahatan, jalan yang senantiasa disampaikan dan dicontohkan Nabi sepanjang hidupnya. Jalan sabar adalah jalan kemaslahatan, yang sangat ditekankan al-Quran, Hendaklah kalian memohon pertolongan melalui kesabaran dan shalat (QS. Al-Baqarah [2]: 45). Ada yang berpandangan, bahwa sabar disebutkan lebih awal dari pada shalat, karena betapa pentingnya sabar dalam menjalani kehidupan, lebih-lebih di tengah situasi genting yang terkait masa depan ajaran Nabi Muhammad SAW.

Abu Bakar al-Shiddiq meninggal dunia, lalu suksesi kekhilafahan diberikan kepada Umar bin Khattab. Konon, Abu Bakar al-Shiddiq yang menunjuk Umar agar menjadi penerusnya. Imam Ali bin Abi Thalib menggambarkan sosok Umar bin Khattab sebagai sosok yang keras, tegas, dan kerap melakukan kesalahan, meski ia juga suka meminta maaf. Imam Ali pun terus bersabar  dalam masa-masa sulit ini.

Imam Ali bin Abi Thalib mengedepankan keberlangsungan ajaran Nabi Muhammad SAW. Bahkan disebutkan, ia kerap membantu dan memberikan masukan kepada Umar bin Khattab, sehingga dikenal sebuah ungkapan, “Jika tidak ada Imam Ali bin Abi Thalib, niscaya Umar bin Khattab akan ambyar.” Jasa Imam Ali dalam melanggengkan ajaran Nabi Muhammad SAW tak terbalaskan.

Umar bin Khattab wafat setelah ditikam oleh Abu Lu’luah. Sebelum wafat, Umar bin Khattab melalui putranya, Abdullah, mengajukan enam orang sebagai kandidat suksesornya: Imam Ali bin Abi Thalib, Utsman bin Affan, Thalhah, Zubair, Sa’ad, dan Abdurrahman bin ‘Awf. Imam Ali menggambarkan suasana musyawarah saat itu, yang mana tim formatur menampakkan keraguan terhadap dirinya, sehingga ia pun tidak menentang sikap mereka. Usman bin ‘Affah terpilih sebagai khalifah.

Imam Ali bin Thalib menggambarkan kekhilafahan pada saat itu, yang mana kekuasaan digunakan untuk memuaskan keluarganya. Akhirnya, Utsman bin Affan juga terbunuh, sebagaimana pendahulunya.

Lalu, Imam Abi bin Abi Thalib dipilih sebagai khalifah dan amirul mukminin. Tidak seperti para pendahulunya, ia menggambarkan suasana gegap-gempita menyeruak dan banyak umat yang berbaiat kepada dirinya, hingga dikisahkan kedua puteranya, Imam Hasan dan Imam Husein terinjak dan luput dari perhatian dari saking banyaknya umat yang mengharu-biru, menyambut penobatan Imam Ali sebagai amirul mukminin.

Namun, dalam perjalanannya terdapat kelompok yang berkhianat terhadap Imam Ali bin Abi Thalib. Mereka dikenal dengan al-nakitsun, al-mariqun, dan al-qasithun. Yang disebut al-nakitsun, yaitu mereka yang berkhianat setelah berbaiat kepada Imam Ali, seperti Thalhah dan Zubair. Bahkan, mereka memerangi Imam Ali dalam sebuah perang, yang dikenal dengan “Perang Unta” (harb al-jamal). Thalhah dan Zubair terbunuh dalam perang tersebut.

Sedangkan al-mariqun, yaitu mereka yang keluar dari jalan ajaran Rasulullah SAW. Mereka dikenal dengan al-khawarij, yang sudah diramal oleh Nabi dalam beberapa hadis sebagai kaum yang hafal al-Quran, tapi salah dalam memahaminya karena mereka mempunyai nafsu kuasa yang tinggi. Mereka membaca al-Quran hanya sampai kerongkongan, dan tidak menjadikannya sebagai hiasan hati untuk menebarkan kebajikan. Mereka menghalalkan kekerasan dengan mengatasnamakan Tuhan. Imam Ali bin Abi Thalib terlibat peperangan dengan kaum Khawarij, dan berhasil mengalahkan mereka. Konon, hanya tersisa 40 orang dari mereka.

Yang terakhir, al-qasithun. Yaitu mereka yang berbuat zalim dan menyimpang dari garis kemufakatan. Mereka adalah Mu’awiyah dan pengikutnya, termasuk ‘Amr bin ‘Ash. Imam Ali bin Abi Thalib juga terlibat dalam perang dengan mereka di Shiffin, perbatasan antara Suriah dan Irak. Perang tersebut kemudian dikenal dengan “Perang Shiffin”.

Di dalam kitab Nahjul Balaghah, Imam Ali bin Abi Thalib mempertahankan kekhilafahan semata-mata karena Allah SWT untuk menentang kezaliman dan membela mereka yang tertindas. Bahkan, ia sebenarnya ingin memilih untuk tidak peduli pada hal duniawi, termasuk kekhilafahan politis, sebagaimana ditunjukkan saat penobatan Abu Bakar al-Shiddiq sebagai khalifah yang pertama. Jika bisa memilih, dalam menghadapi pihak-pihak yang berkhianat di masa kekhilafahannya, Imam Ali akan memilih jalan asketis, karena sesungguhnya mereka lebih hina dari cairan yang keluar dari hidung kambing!

Khutbah Imam Ali bin Abi Thalib ini banyak dijadikan sebagai rujukan penting dalam menggambarkan suasana kebatinan perihal kondisi obyektif umat Islam setelah wafatnya Nabi Muhammad SAW. Kata syiqsyiqah yang digunakan oleh Imam Ali sebagai bentuk ungkapan yang paling serius dan membatin dalam menyikapi kekhalifahan sejak masa Abu Bakar al-Shiddiq, Umar bin Khattab, Utsman bin ‘Affan, hingga bagi dirinya sendiri.

Harapannya, kita semua dapat mengambil pelajaran yang sangat berharga. Imam Ali bin Abi Thalib, pada mulanya memilih bersabar untuk tidak menumpahkan darah sesama Muslim agar ajaran Rasulullah SAW bisa terus berlangsung, al-Quran dikodifikasi, dan kita dapat mengikuti akhlak Rasulullah SAW. Namun, pada akhirnya, Imam Ali tidak mempunyai pilihan lain, karena mereka yang berkhianat hendak memerangi dirinya. Perang Jamal, Perang Nahrawan, dan Perang Shiffin menjadi pelajaran berharga, bahwa kita harus menegakkan kebenaran dan menentang kezaliman. Meskipun demikian, Imam Ali bin Abi Thalib, senantiasa mengingatkan kita semua agar senantiasa berjalan di atas jalan Allah, jalan Nabi Muhammad SAW, dan keluarganya. Apa yang kita perjuangkan sejatinya tidak menyimpang dari haluan berislam. Kita harus istikamah dalam jalan kehanifan Islam.

Share and Enjoy !

0Shares
0 0

Last modified: Desember 19, 2020

Comments are closed.