IMAM ALI BIN ABI THALIB: PARA PENGIKUT SETAN (9)

111

Written by:

Mereka menjadikan setan sebagai panglima, menjadikannya sebagai sekutu, sehingga setan-setan itu bertelur dan menetas dalam sanubari mereka. Mata dan lisan mereka dikontrol sepenuhnya oleh setan

Khutbah Imam Ali bin Abi Thalib ini disampaikan saat ia dikukuhkan sebagai khalifah setelah wafatnya Utsman bin Affan. Ia dibai’at sebagai khalifah dalam situasi yang sangat berbeda dengan para khalifah yang sebelumnya, karena terlihat euforia dan sambutan yang luar biasa dari para pemuka dan umat. Untuk pertama kalinya, proses pemilihan khalifah dengan proses yang sangat meriah dan penuh kegembiraan. Mereka menanti momen yang sangat indah ini. Imam Ali menjadi khalifah.

Namun, situasi meriah dan mempesona itu tidak berlangsung lama, karena setelah itu muncul konspirasi dari mereka yang sebelumnya memberikan dukungan penuh terhadap Imam Ali bin Abi Thalib. Thalhah dan Zubair yang sebelumnya memberikan dukungan penuh, tetapi akhirnya berkhianat. Diam-diam, keduanya melakukan konspirasi, sehingga akhirnya terjadi Perang Unta, yang menjadi cikal-bakal dari peristiwa dan perang pada masa-masa berikutnya, khususnya Perang Shiffin dan Perang Nahrawan melawan Khawarij.

Pengkhianatan kepada Imam Ali bin Abi Thalib sebagai khalifah menjadi pelajaran berharga bagi kita semua, bahwa pertarungan yang paling rumit adalah melawan orang-orang yang selama ini mendukung dan bersamanya. Imam Ali sudah menanti terlalu lama untuk menjadi pembawa obor ajaran Nabi Muhammad SAW, tetapi saat waktunya datang, ia pun dirongrong oleh mereka yang telah mendukungnya. Ia berujar, “Demi Allah, aku masih terus menanti hakku sejak wafatnya Nabi hingga saat ini.”

Perang Unta merupakan perang yang sebenarnya ingin dihindari Imam Ali bin Abi Thalib. Ia masih berbaik sangka dan memberikan kesempatan kepada Thalhah untuk mengurungkan niatnya. Bahkan, saat Imam Ali tahu bahwa Thalhah dan Zubair sedang merancang berbagai tipu-daya untuk merongrong kekhilafahannya. Zubair mengklaim saat ia berbait, bahwa lisannya yang berbicara, tapi hatinya menolak. Imam Ali mengajaknya untuk berbait untuk kedua kalinya.

Namun Imam Ali bin Abi Thalib tidak melihat ada niat baik dari Thalhah dan Zubair. Ia menggambarkan keduanya sebagai para pengikut setan, sembari berkata, “Mereka menjadikan setan sebagai panglima, menjadikannya sebagai sekutu, sehingga setan-setan itu bertelur dan menetas dalam sanubari mereka. Mata dan lisan mereka dikontrol sepenuhnya oleh setan”.

Imam Ali bin Abi Thalib menggambarkan mereka yang mengkhianatinya sebagai orang-orang yang tidak lagi dikontrol oleh hidayah dan kebenaran ajaran Islam, sebagaimana diwahyukan al-Quran, disunnahkan Nabi, dan disampaikan para keluarga Nabi, termasuk Imam Ali sendiri. Hati mereka tertutup rapat hanya untuk memenuhi hasrat kekuasaan. Mereka yang menentang Imam Ali hakikatnya dikontrol oleh setan, sehingga dalam hidupnya penuh kesalahan dan kebatilan. Jika pun mereka berkuasa, mereka akan dikuasai oleh tipu daya setan. Lisan mereka berbicara atas nama setan.

Ironisnya, Zubair dan Thalhah justru menggertak dan mengancam Imam Ali bin Abi Thalib. Keduanya benar-benar dikuasai tipu daya setan. Meskipun demikian, gertak sambal keduanya mengalami kegagalan. Imam Ali menyatakan tidak takut sedikitpun dengan gertakan mereka. Semua tahu, Nabi Muhammad SAW pernah bersabda, Tidak ada pemuda pemberani kecuali Imam Ali bin Abi Thalib, dan tidak ada pedang kecuali dzulfikar. Nabi hendak memberikan kesaksian betapa Imam Ali adalah sosok pemberani, yang kelihaiannya di dalam pena dan pedang tidak diragukan lagi.

Mereka yang menentang dan berkhianat pada Imam Ali bin Abi Thalib adalah sosok-sosok yang dipersatukan oleh setan. Di dalam diri mereka hanya nafsu kuasa semata, dan mereka hendak menentang kekhilafahan yang sah. Mereka sama sekali tidak mencerminkan akhlak yang sudah ditunjukkan oleh Imam Ali sejak kekhalifahan yang pertama. Mereka hanya ingin memecahbelah persatuan dan persaudaraan umat.

Maka dari itu, Imam Ali bin Abi Thalib kemudian menegaskan, bahwa ia berpegang teguh pada bashirah, mata hati dan hati nurani. Ia selalu berpedoman pada apa yang telah digariskan Allah SWT di dalam al-Quran, sunnah Nabi, dan keluarganya. Garis-garis itu merupakan mutiara yang telah terbukti menyinari hati Imam Ali.

Itulah yang membedakan Imam Ali bin Abi Thalib dengan kaum al-nakitsun, mereka yang menentang dan berkhianat pada Imam Ali. Sebagai sosok yang pertama kali masuk Islam, hidup dalam suka dan duka bersama Nabi dan keluarganya, serta menyaksikan langsung turunnya al-Quran dan mengumpulkannya, sehingga kita semua bisa menikmati keindahan ayat-ayatnya, Imam Ali adalah khalifah mendapatkan mandat dari langit dan bumi sekaligus.

Untuk itu, saya yang tumbuh dalam tradisi Sunni, selalu mempunyai gelar khusus bagi Ali bin Abi Thalib, yaitu Imam. Para khalifah sebelum-sebelumnya tidak mempunyai panggilan khusus, Imam. Hanya Ali bin Abi Thalib dipanggil dengan Imam. Hal tersebut merupakan penghormatan dan penghargaan khusus atas keistimewaan Imam Ali bin Abi Thalib.

Sebagai sosok pemberani yang tak gentar sedikitpun, Imam Ali bin Abi Thalib memenuhi tantangan Zubair dan Thalhah. Imam Ali berjanji akan memimpin sendiri pertempuran yang dikenal Perang Unta, dan akhirnya Zubair dan Thalhah wafat. Imam Ali memenangkan pertempuran yang sebenarnya tidak ia kehendaki jika mereka yang menentangkan tidak mengikuti jalan dan tipu daya setan. Pelajaran berharga dari catatan Imam Ali bin Abi Thalib dalam kitab Nahjul Balaghah, hendaknya kita dapat mengedepankan hati nurani, bukan tipu daya setan. Pengkhianatan dan penentangan kepada pemimpin yang sah sama sekali tidak dibenarkan karena hanya akan menciptkan perpecahan, fitnah, dan konflik. Semua itu akan bisa diatasi jika kita semua menjauhkan tipu daya setan, dan kembali pada bashirah, hati nurani.

Share and Enjoy !

Shares

Last modified: Januari 6, 2021

One Response to " IMAM ALI BIN ABI THALIB: PARA PENGIKUT SETAN (9) "

  1. Koswara berkata:

    MasyaAllah Gus, tulisan sederhana dengan aroma yg luar biasa.

    Salam,