IMAM ALI BIN ABI THALIB: PELAJARAN DARI SHIFFIN DAN BERPEGANG PADA KELUARGA RASULULLAH SAW (5)

96

Written by:

Sesungguhnya Allah ingin menghilangkan dosa dari kalian, wahal Ahlul Bait, dan membersihkanmu sebersih-bersihnya (al-Ahzab [33]: 33).

Ayat ini termasuk salah satu ayat yang biasa dibacakan oleh warga Nahdliyyin dalam tahlil. Lalu dilanjutkan dengan shalawat kepada baginda Rasulullah SAW. Pesan utamanya, berpegang pada ajaran Rasulullah SAW sejatinya disempurnakan dengan mengikuti ajaran yang dibawa oleh keluarga Rasulullah SAW.

Imam al-Razi dalam al-Tafsir al-Kabir: Mafatih al-Ghayb, menegaskan bahwa ayat tersebut merupakan bukti penghormatan Allah SWT terhadap keluarga Nabi dan memberikan pakaian kemuliaan kepada mereka, khususnya kepada Imam Ali bin Ali Thalib, Sayyidah Fathimah al-Zahra, Imam Hasan dan Imam Husein.

Di lingkungan Nahdlatul Ulama, ayat di atas pada akhirnya menjadi amalan dan bacaan yang dilantunkan setiap saat, lebih-lebih di tengah pandemi, karena dapat menyembuhkan dari berbagai penyakit yang mematikan, terutama Covid-19. Bunyi bacaannya, li khamsatun uthfi biha harral waba’ al-hathimah, al-Musthafa, wa al-Murtadha, waibnahuma wa Fathimah. Aku mempunyai lima sosok yang dapat menyembuhkan pedihnya wabah yang mematikan, yaitu Nabi Muhammad SAW, Imam Ali bin Abi Thalib, Imam Hasan dan Imam Husein, dan Sayyidah Fathimah.

Intinya, Rasulullah SAW dan keluarganya merupakan perisai hidup dan tombo ati, yang akan terus membangkitkan spiritualitas kita dalam beragama. Selama kita terus berjalan di atas rel yang diajarkan Rasulullah SAW dan keluarganya, maka kita akan selamat dalam menghadapi berbagai cobaan dan rintangan hidup.

Dalam konteks tersebut, saya bisa memahami, kenapa warga Nadhiyyin kerap membaca ayat tersebut dan menjadikannya sebagai doa pandemi, karena pada hakikatnya mereka ingin selalu bertawashshul pada Rasulullah SAW dan keluarganya. Belum lagi, mereka yang membawa panji-panji Islam ke Nusantara adalah Walisongo yang mempunyai garis geneologis dengan keluarga Rasulullah SAW.

Kitab monumental Imam Ali bin Abi Thalib, Nahjul Balaghah, memberikan perhatian khusus terhadap pentingnya menilik ajaran keluarga Nabi, karena mereka adalah hamzah al-washl, yang menyambungkan ajarah Rasulullah SAW dari zaman ke zaman, sehingga esensinya tidak pernah terputus.

Secara khusus, Imam Ali bin Abi Thalib menyampaikan pesan tersebut setelah peristiwa bersejarah, yaitu perang Shiffin. Perang yang terjadi antara Imam Ali dan Mu’awiyah. Perang ini bermula dari pemberontakan yang dilakukan Mu’awiyah dan pengikutnya terhadap Imam Ali, meminta pembalasan atas pelaku pembunuhan terhadap Utsman bin Affan.

Imam Ali meminta Mu’awiyah untuk menahan diri dan mengedepankan persatuan umat Islam yang baru dilanda fitnah. Namun, Mu’awiyah menolak, dan terjadilah pertempuran yang menyebabkan jatuhnya korban jiwa dalam jumlah yang sangat besar. Imam Ali dan pengikutnya memenangkan pertempuran tersebut, dan Mu’awiyah menyerah dengan mengajukan al-Quran di ujung pedang, yang kemudian dikenal dengan tahkim.

Nah, selepas peristiwan Shiffin tersebut, Imam Ali bin Abi Thalib mengingatkan kembali kepada umat Islam untuk berpijak di atas jalan yang benar. Yaitu, jalan Allah SWT. Jalan yang di dalamnya penuh kebaikan dan kebajikan. Sebab itu, perlu kesaksian yang tulus, asyhadu an la ilaha illa Allah wahdahu la syarikalahu.

Menurut Imam Ali bin Abi Thalib, kesaksian perihal ketuhanan Allah SWT hendaklah disampaikan dengan tulus yang senantiasa dipedomani selama hayat dikandung badan, selamanya. Syahadat tersebut merupakan kunci keimanan, pembuka kebajikan, ciri ridha Allah SWT, dan dapat mengusir setan.

Selanjutnya, Imam Ali bin Abi Thalib menggarisbawahi pentingnya berpegang teguh pada ajaran Rasulullah SAW, yang telah membawa panji-panji Islam kepada semesta alam. Panji yang di dalamnya terdapat cahaya terang, sehingga tumbuh keyakinan bagi umatnya untuk menegakkan kebenaran.

Imam Ali bin Abi Thalib mengisahkan tentang fitnah-fitnah yang muncul di tengah umatnya, sehingga memutus tali agama, mengguncang keyakinan, sehingga lahirlah perseteruan dan konflik. Mereka secara terang-terangan melakukan kemaksiatan dan memenangkan kebatilan. Mereka telah memilih jalan setan. Tidur mereka pun tak lelap dan mata mereka bermandikan tangis. Cilakanya, kaum cerdik-cendekia dan ulamanya dikungkung, sementara kaum bodoh dan pongah dimuliakan.

Peristiwa Shiffin memberikan pelajaran penting, karena pada momen yang sangat bersejarah ini, Imam Ali bin Abi Thalib secara eksplisit menegaskan tentang pentingnya keluarga Rasulullah SAW. Mereka adalah manusia pilihan Allah SWT yang akan meneruskan ajaran Rasulullah SAW. Mereka adalah tempat berlindung, samudera ilmu, rujukan hukum, dan sumber yang tidak akan pernah kering dalam agama.

Sebaliknya, kita mesti waspada terhadap orang-orang yang menanam kejahatan, mengucurkan tipuan, dan memanen marabahaya. Mereka sama sekali tidak bisa disejajarkan dengan keluarga Rasulullah SAW sebagai fundamen agama dan pilar keyakinan. Mereka akan senantiasa diteladani, karena mereka mempunyai kepemimpinan, wasiat, dan warisan yang akan memenuhi dunia dengan kebaikan, kebajikan, dan kemaslahatan.

Dalam konteks ini, Imam Ali bin Abi Thalib sebenarnya mengingatkan kita dari fitnah yang dihembuskan Mu’awiyah, yang terus menghantui perjalanan sejarah Islam. Mu’awiyah terus melancarkan manuver untuk mengubur khazanah keluarga Rasulullah SAW, khususnya Imam Ali bin Abi Thalib dan keturunannya. Dan kita hingga sekarang, hidup dalam bayang-bayang fitnah Mu’awiyah, yang telah menghembuskan kebencian terhadap keluarga Rasulullah SAW, bahkan menjauhkan umat Islam dari ajaran Rasulullah SAW. Perang Shiffin mempunyai makna yang sangat besar bagi perjalanan umat Islam, karena pada momen inilah sebenarnya umat Islam berada di persimpangan jalan, yaitu jalan keluarga Rasulullah SAW atau jalan Mu’awiyah. Tentu, Imam Ali bin Abi Thalib mengingatkan kita semua agar senantiasa berada di jalan Allah SWT, Rasulullah SAW dan keluarganya. Allahumma ‘ala sayyidina Muhammad wa ‘ala Ali sayyidina Muhammad.

Share and Enjoy !

0Shares
0 0

Last modified: Desember 11, 2020

Comments are closed.