IMAM ALI BIN ABI THALIB: PENTINGNYA MEMAHAMI AL-QURAN MELALUI ILMU-ILMU AL-QURAN DAN PESAN HIKMAH IBADAH HAJI (4)

102

Written by:

Al-Quran adalah teks yang tidak berbicara, yang berbicara adalah para manusia

Al-Quran mempunyai banyak dimensi

Dua ungkapan Imam Ali bin Abi Thalib tersebut sangat populer bagi mereka yang menekuni studi ilmu al-Quran dan tafsir. Menantu Nabi Muhammad SAW ini hendak mengingatkan pada kita sesuatu yang sangat penting, bahwa pada suatu masa akan muncul banyak orang dan kelompok yang mudah mengatasnamakan al-Quran, tapi sayangnya tidak menguasai ilmu al-Quran dan jauh dari pesan utama al-Quran.

Pada zaman itu, telah muncul kaum Khawarij yang digambarkan dalam hadis Nabi Muhammad SAW sebagai penghafal al-Quran, tetapi bacaan al-Quran hanya sampai pada tenggorokan dan tidak sampai ke kalbunya. Akibatnya, al-Quran hanya dijadikan hiasan diri dan justifikasi bagi kepentingan politik kekuasaan mereka. Benar, berabad-abad al-Quran digunakan sebagai instrumen politik, bukan instrumen pencerahan dan pembentukan peradaban adiluhung. Al-Quran dibaca di mimbar-mimbar dan dijadikan hiasan dinding, tetapi maknanya tidak mampu menggugah hati nurasi dan kesadaran kolektif umat Islam untuk membangun peradaban.

Dalam konteks tersebut, Imam Ali bin Abi Thalib memberikan sebuah petunjuk dan jalan terang untuk memahami al-Quran. Persoalan serius yang dihadapi umat Islam, dari masa lampau hingga sekarang, terletak pada cara pandang terhadap al-Quran. Mereka seolah-olah berpegang teguh pada ayat-ayat al-Quran, tetapi sebenarnya mereka mengatasnamakan al-Quran.

Ada kelompok yang mempunyai slogan, kembali kepada al-Quran, tetapi mereka hanya berhenti pada slogan kosong. Jika pun benar-benar kembali ke al-Quran, mereka tidak menggunakan cara yang tepat dalam jalan kembali ke al-Quran, sehingga makna yang dihasilkan sangat jauh dari keindahan dan keramahtamahan al-Quran. Bahkan tidak jarang pandangan-pandangannya bertentangan dengan kandungan al-Quran.

Dua ungkapan Imam Ali bin Abi Thalib yang sangat populer itu memberikan gambaran yang sangat gamblang  perihal bagaimana kita harus sungguh-sungguh menjadikan al-Quran sebagai pedoman dalam kehidupan dengan cara memahaminya sebaik mungkin untuk kemaslahatan bersama (al-mashlahah al-‘ammah).

Di dalam kitab Nahjul Balaghah, Imam Ali bin Abi Thalib menegaskan, Tuhan menurunkan al-Quran sebagai obor kehidupan bagi umat Islam. Di dalamnya berisi tentang hal-hal yang halal dan haram. Di dalamnya ada penjelasan tentang kewajiban yang harus ditunaikan dan keutamaan bagi siapan yang membaca, mengajarkan, dan mendalami al-Quran.

Meskipun demikian, Imam Ali bin Abi Thalib mengingatkan kita semua, bahwa memahami al-Quran tidak semudah yang dibayangkan. Apa yang kita sampaikan tentang al-Quran harus disertai dengan ilmu-ilmu al-Quran, atau yang dikenal dengan ‘Ulum al-Quran. Pada hakikatnya, al-Quran tidak berbicara. Al-Quran sebagai teks tidak berbicara, bisu. Yang menjadikan al-Quran bermakna adalah kita manusia. Kita yang memaknai setiap ayat di dalam al-Quran.

Dalam hal ini, memahami al-Quran sebenarnya tidak cukup hanya dengan terjemahan kata. Sebab terjemahan kata tidak mampu menangkap nuansa makna dan pesan yang terdapat di dalam al-Quran. Apalagi kita kerap mendengarkan testimoni dari beberapa mantan teroris, bahwa mereka mudah direkrut oleh kelompok-kelompok ekstremis untuk menjadi teroris, salah satunya karena membaca terjemahan al-Quran. Sejumlah ayat-ayat tentang perang (al-qital) dibaca tanpa memahami konteks al-Quran diturunkan.

Setelah membaca kitab Nahjul Balaghah, saya jadi mengerti bahwa Imam Ali bin Abi Thalib merupakan mata air dan rujukan awal bagi kitab-kitab ‘Ulum al-Quran yang ditulis oleh ulama-ulama mutakhir, seperti al-Burhan fi ‘Ulum al-Quran karya Imam al-Zarkasyi, al-Itqan fi ‘Ulum al-Quran karya Imam al-Suyuthi, Manahil al-‘Irfan fi ‘Ulum al-Quran karya Imam al-Zarqani, al-Ziyadah wa al-Ihsan fi ‘Ulum al-Quran karya Ibnu ‘Aqliyyah al-Makky, dan banyak kitab ilmu-ilmu al-Quran lainnya.

Istimewanya, Imam Ali bin Abi Thalib merangkum ilmu-ilmu al-Quran dalam kalimat yang indah, padat, dan khidmat. Menurut Imam Ali, untuk memahami al-Quran diperlukan pengetahuan tentang abrogasi (al-nasikh wa al-mansukh), dispensasi (al-rukhshah), ketetapan hati (al-‘azimah), khusus dan umum (al-khash wa al-‘ami), pelajaran dan permisalan (al-‘ibrah wa al-amtsal), mutlak dan terikat (al-mutlaq wa al-muqayyah), absolut dan interpretatif (al-muhkam wa al-mutasyabih), ringkas dan terurai (al-mujmal wa al-mubayyan), dan lain lain sebagainya.

Memahami al-Quran melalui ilmu-ilmunya merupakan sebuah keniscayaan, sehingga kita sebagai pembaca dan penafsir al-Quran dapat menangkap makna yang terkandung di dalamnya jauh dari hawa nafsu dan kepentingan yang dapat bertentangan dengan pesan-pesan bajik dan bijak dalam al-Quran.

Dalam konteks kekinian, kita mendapati betapa banyak yang memahami al-Quran hanya berdasarkan terjemahan kata tanpa mengusai ilmu-ilmu al-Quran dengan baik, sehingga banyak hal yang aneh yang tersampaikan, bahkan bertentangan dengan nilai-nilai universal yang menjadi esensi kandungan al-Quran. Konsekuensinya, al-Quran dijustifikasi untuk aksi terorisme, kekerasan, dan pembunuhan. Na’udzubillahi min dzalik.

Pada khutbah yang pertama dalam kitab Nahjul Balaghah, Imam Ali bin Abi Thalib secara khusus menggarisbawahi makna ibadah haji. Pada ibadah haji banyak pesan yang tersurat dan tersirat. Pesan yang tersurat, di antaranya: ajaran yang menyatukan umat Islam di tengah perbedaan dan keragaman paham dan mazhab, yaitu semua umat Islam menghadap kiblat ke Ka’bah di Masjidil Haram. Haji dapat menunjukkan kepada kita tentang keagungan Tuhan dan kemulian-Nya. Doa-doa dalam ibadah haji merupakan doa-doa yang dikabulkan.

Yang tersirat, di dalam haji, Nabi Muhammad SAW menegaskan tentang nilai-nilai kemanusiaan dan kesetaraan yang harus dijunjung tinggi oleh umatnya, bahwa seluruh keturunan Nabi Adam harus saling menghormati dan menghargai, tidak boleh ada pertumpahan darah, dan yang mulia di sisi Tuhan adalah mereka yang paling takwa. Satu lagi, Nabi Muhammad SAW berpesan agar kita berpegang kepada al-Quran dan keluarganya (al-‘ithrah wa ahlul bait) yang akan melanjutkan panji-panji sunnah Nabi.

Share and Enjoy !

0Shares
0 0

Last modified: November 29, 2020

Comments are closed.