IMAM ALI BIN ABI THALIB: PINTU HIDAYAH DAN KEYAKINAN MENUJU KEBENARAN (7)

57

Written by:

Bersama kami, kalian mendapatkan hidayah di tengah kegelapan yang pekat, lalu menapaki jalan menuju kemuliaan yang menjulang tinggi, dan bersama kami kalin menjemput fajar kebahagiaan

Petikan khutbah Imam Ali bin Abi Thalib tersebut disampaikan setelah wafatnya Zubair dan Thalhah dalam peristiwa Perang Unta. Sebuah peristiwa yang memberikan pelajaran sangat berharga bagi kita semua agar senantiasa mengikuti jalan kebenaran, bukan jalan fitnah dan kebatilan. Intinya, peristiwa kelam seperti Perang Unta tidak boleh terjadi lagi, karena hawa nafsu telah mengalahkan hati nurani.

Imam Ali bin Abi Thalib mempunyai kedudukan yang sangat istimewa di sisi Nabi Muhammad SAW. Ia mengibarkan dan mengobarkan panji Islam, di saat dan setelah Nabi wafat. Ia melanjutkan panji hidayah, yang barangkali jika bukan Imam Ali, tak ada lagi sosok yang mampu melanjutkan estafeta ajaran Nabi.

Imam Ali bin Abi Thalib memilih bersabar atas peristiwa politik setelah wafatnya Nabi. Ia mengedepankan persatuan dan kemaslahatan bersama. Ia ingin ajaran Nabi terus membahana di tengah riak dan gejolak politik yang tak terkira. Dan Imam Ali benar, Islam terus berkembang dan mewarnai peradaban dunia, karena ajaran Nabi dapat mewarnai kehidupan bersama. Bahkan, kita semua beruntung karena ajaran Nabi itu dapat dirasakan dan mewarnai kehidupan kita, meski tidak secara paripurna.

Di saat Imam Ali bin Abi Thalib dibaiat menjadi khalifah, muncul asa yang luar biasa. Semua pihak mendukungnya. Imam Ali mempunyai kapasitas intelektual dan moral untuk membawa umat pada kemajuan dan kejayaan. Namun, semua itu tidak berjalan mulus, karena muncul pengkhianatan dan pembangkangan terhadap Imam Ali.

Pada saat itu pula, Imam Ali bin Abi Thalib menegaskan dan mengingatkan kembali, bahwa ia telah dititahkan menjadi jalan hidayah setelah Nabi. Ia mempunyai tugas tidak hanya menjadi pemimpin politik, melainkan juga pemimpin moral dan ilmu. Ia membawa obor hidayah yang telah digariskan Allah SWT melalui al-Quran, dipraktekkan Nabi Muhammad SAW melalui akhlak, dan dilanjutkan oleh para keluarganya (ahlul bayt).

Selama ini, banyak pihak memahami kekhilafahan hanya pada dimensi politik atau kepemimpinan umat. Padahal kekhilafahan yang sesungguhnya adalalah keberlanjutan dan keberlangsungan ajaran Nabi Muhammad SAW, terutama wahya al-Quran agar terus mewarnai kehidupan umat dan manusia. Dalam konteks tersebut, posisi Imam Ali sangat sentral, dan semua sahabat Nabi mengetahui itu.

Ada beberapa sahabat Nabi yang mencoba untuk mengaburkan fakta tersebut, di antaranya Thalhah dan Zubair. Bahkan keduanya dengan segala tipu-daya dan hasrat kuasa yang luar biasa memerangi Imam Ali bin Abi Thalib, hingga terbunuh dalam Perang Unta. Disebut Perang Uta, karena mereka mengenderai unta.

Imam Ali bin Abi Thalib tak kuasa menyampaikan kekecewaan yang sangat mendalam, karena mereka yang memeranginya adalah sosok yang menyaksikan langsung betapa cahaya al-Quran, sunnah Nabi, dan budi pekerti keluarga Nabi masih segar dalam ingatan mereka. Namun mereka tidak mau mengikuti jalan hidayah. Alih-alih mematuhi kekhilafahan Imam Ali, mereka justru terlibat dalam konspirasi untuk mengganggu dan menjatuhkan kepemimpinan menantu Nabi itu.

Di tengah situasi yang penuh konspirasi dan tipu-daya, Imam Ali bin Abi Thalib terus menyalakan optimisme dan kesabaran. Barangkali mereka akan kembali ke jalan hidayah. Barangkali secara lahiriah mereka menentang Imam Ali, siapa tahu dalam batinnya masih ada keinginan untuk mengikuti jalan hidayah.

Namun semua itu sia-sia belaka, karena mereka memilih jalan kegelapan. Mereka terlihat melupakan hidayah yang sudah dititahkan Allah SWT di dalam al-Quran, Nabi Muhammad SAW, dan keluarganya. Dan Imam Ali bin Abi Thalib memilih jalan yang pernah dijalankan oleh Nabi Musa, yaitu jalan yang tidak ada ketakukan seinci pun dalam melawan kezaliman, kegelapan, dan kesesatan. Kemudian, Imam Ali menegaskan di akhir khutbahnya, “ Pada hari ini, kami telah berada dalam persimpangan antara kebenaran dan kebatilan. Barangsiapa berpijak pada air kebenaran, maka ia tidak akan pernah kehausan, sampai kapanpun”.

Kita semua berhutang jasa, budi, dan ilmu kepada Imam Ali bin Abi Thalib, karena komitmen dan perjuangannya, kita semua dapat menimba ajaran Nabi dan keluarganya. Kita dapat merasakan keindahan dan keistimewaan Islam. Secara pribadi, saya dapat mengenal pesan-pesan Nabi melalui Imam Ali selama masih mondok di pesantren. Saya melihat jalan terang keindahan Islam sejak itu.

Jujur, selama di pesantren, saya mengalami pergolakan spiritual, karena sejarah Islam dikenalkan melalui narasi konfliktual, sehingga sedikit banyak muncul pertanyaan perihal ajaran Nabi, antara ide dan realitas. Dan Imam Ali bin Abi Thalib mampu meyakinkan saya, karena mampu menghadirkan wajah Islam yang ramah, indah, dan menentramkan hati.

Di dalam kitab Nahjul Balaghah, saya dibawa pada penjelasan yang lebih komprehensif perihal sejarah di masa lampau, khususnya bagaimana Imam Ali menjelaskan dinamika, persaingan, konspirasi, dan perseteruan. Ia mengajak kita untuk senantiasa berpijak pada jalan hidayah: jalan kebenaran, kebaikan, kemaslahatan, persatuan, dan persaudaraan. Dan semua itu, harus dilalui melalui jalan berliku yang meniscayakan kesabaran dan perjuangan yang luar biasa.

Pada akhirnya, dalam menghadapi situasi terkini yang penuh fitnah dan konspirasi, kita bisa belajar banyak dari Imam Ali bin Abi Thalib. Di antaranya, terus membangun optimisme, bahwa jalan hidayah adalah solusi terbaik. Sebaliknya, jalan kegelapan akan sirna dengan sendirinya. Jalan hidayah akan selalu menang sejauh jalan tersebut diperjuangkan dengan sungguh-sungguh. Hilangkan ketakutan, nyalakan api keberanian, niscaya kebenaran akan memenangkan pergulatan.

Share and Enjoy !

0Shares
0 0

Last modified: Januari 2, 2021

Comments are closed.