ISLAM KITA, BUKAN ISLAMKU

197

Written by:

Selama pandemi, saya dan KH. Miftah Fauzi Rakhmat berhasil mengkhatamkan sebuah buku yang spektakuler, Islamuna: fi al-Tawfiq bayna al-Sunnah wa al-Syi’ah (Islam Kita: Titik-Temu Sunni-Syiah), karya Dr. Mustafa Rafii, ulama dan cendekiawan asal Libanon di kanal youtube ISLAM RAMAH TV. Kami berdua setiap Jumat malam mengaji buku tersebut dan memberikan komentar. Biasanya, saya membaca naskah Arab dan menerjemahkannya. Lalu, Kiai Miftah memberikan komentar terhadap konten buku.

Saya sendiri tumbuh di tengah-tengah tradisi Sunni ala Nahdlatul Ulama. Sedangkan Kiai Miftah dibesarkan dalam tradisi Syiah, khususnya Syiah Imam Duabelas. Tapi kita berdua bersahabat, saling belajar, dan saling menginspirasi. Saya tidak ingat kapan berjumpa dengan Kiai Miftah pertama kali. Tetapi kami berdua suka melempar humor, sehingga terlihat penuh keakraban dalam setiap perbincangan kita berdua.

Umat Islam sepanjang sejarahnya hidup dalam bayang-bayang narasi konflik Sunni-Syiah. Meskipun istilah “konflik Sunni-Syiah” tidak selamanya benar dan dibenarkan. Sebab istilah “Sunni” atau “Ahlussunnah wal Jamaah” relatif baru. Istilah Sunni atau Ahlussunnah wal Jamaah biasanya merujuk kepada Imam Abul Hasan al-Asy’ari (874-936).

Dulu, sebenarnya perbedaan muncul antara Imam Ali bin Abi Thalib dan pengikutnya dengan Abu Bakar, Umar bin Khattab, dan pengikutnya. Imam Ali memilih untuk memilih jalan persatuan demi keberlangsungan ajaran Nabi Muhammad SAW dan umatnya. Namun, situasinya semakin memburuk pada masa Umayyah karena secara eksplisit memusuhi Imam Ali dan keluarganya. Tragedi kelam pembunuhan Imam Hasan dan Imam Husein merupakan puncak dari upaya sistematis untuk menghapus jejak Imam Ali bin Abi Thalib dan keluarganya. Bahkan mereka secara pelan-pelan mengubah Sunnah Nabi menjadi Sunnah Sahabat.

Syiah sudah muncul sejak pada masa-masa awal Islam. Syiah ini mengacu pada “Syiah Imam Ali bin Abi Thalib”. Imam Ali bin Abi Thalib adalah milenial yang pertama kali memeluk Islam, sepupu dan menantu Nabi Muhammad SAW, serta sosok yang alim. Di dalam hadis Nabi Muhammad SAW disebutkan, Aku adalah kota ilmu, dan Ali adalah pintu gerbangnya (HR. Turmudzi)

Syaikh Ahmad al-Waily dalam Huwiyyah al-Tasyayyu’ menegaskan, bahwa Syiah Ali bin Abi Thalib sebenarnya sudah ada pada zaman Nabi Muhammad SAW dan mereka memiliki loyalitas yang tinggi terhadap Imam Ali hingga akhir hayatnya. Di antara Syiah Imam Ali periode awal, yaitu Jundub bin Junadah, Abu Dzar al-Ghifari, ‘Ammar bin Yasir, Salman al-Farisi, Miqdad bin Umar bin Tsa’bah al-Kindi, Hudzaifah bin al-Yamani.

Mereka meyakini keutamaan Imam Ali bin Abi Thalib, sebagaimana dituturkan dan dilihat dari perangai Nabi Muhammad SAW. Begitu banyak hadis Nabi tentang keutamaan Imam Ali dan karenanya Nabi menikahkan puteri tercintanya, Fatimah az-Zahra dengan Imam Ali bin Abi Thalib. Dalam berbagai kisah disebutkan, sebenarnya Abu Bakar al-Shiddiq dan Umar bin Khattab hendak melamar Fatimah az-Zahra. Tapi Nabi menikahkan puteri tercintanya dengan Imam Ali bin Abi Thalib.

Walhasil, Sunni adalah komunitas Muslim yang memahami Islam melalui jalur Abul Hasan al-Asy’ari dan al-Maturidi. Dalam fikih, mereka merujuk pada Imam Syafii, Imam Abu Hanifah, Imam Malik, dan Imam Ahmad bin Hanbal. Sedangkan dalam tasawuf, mereka merujuk pada Imam al-Ghazali dan Imam Hasan al-Syadzili, atau Syaikh Abdul Qadir al-Jailani.

Dalam perjalanan sejarahnya, Syiah menjadi komunitas Muslim yang mengekspresikan kecintaan pada Nabi Muhammad dan keluarganya, khususnya Imam Ali bin Abi Thalib, Fatimah az-Zahra, Imam Hasan dan Imam Husein, serta jalur keturunannya. Lalu, di manakah titik-temunya?

Titik-temunya pada cinta Nabi Muhammad SAW dan keluarganya. Setahu saya, kami di dalam tradisi Ahlussunah wal Jamaah juga mengekspresikan cinta kepada Nabi Muhammad SAW dan keluarganya. Hadratussyaikh Hasyim Asy’ari menulis buku khususnya tentang pentingnya cinta pada Nabi Muhammad SAW dan keluarganya, yaitu al-Nurul Mubin fi Mahabbati Sayyidil Mursalin.

Selama pandemi ini, kami yang notabene Sunni Nahdlatul Ulama kerap membaca doa, li khamsatun uthfi biha harral waba’I al-hathimah, al-Musthafa wal Murthadha wabhahuma wa Fathimah. Bacaan ini merupakan pujian terhadap Nabi Muhammad SAW dan keluarganya, yang juga sanad dan matannya lahir dalam tradisi Syiah. Bahkan dalam salah satu baitnya, Imam Syafii mengungkapkan secara khusus bahwa kecintaan terhadap keluarga Nabi merupakan sebuah kewajiban, sebagaimana ditegaskan di dalam al-Quran.

Maka dari itu, hendaknya kita menghidupkan kembali wacana ISLAM KITA, sebagaimana digagas oleh Dr. Musthafa Rafii, bukan ISLAMKU. Yaitu keberislaman yang mempunyai sanad langsung pada Nabi Muhammad SAW, keluarganya dan para sahabatnya terpilih. Kita semua lelah selama berabad-abad karena Islam jatuh pada kubangann konflik berdarah-darah yang sebab-musababnya karena ambisi kekuasaan serakah.

Kita harus kembalikan pada keramahtamahan Islam sebagai agama yang kedalamannya laksana samudera. Perbedaan dan keragamaan merupakan sebuah keniscayaan dalam Islam dan khazanahnya. Kita harus memperluas horizon ISLAMKU menjadi ISLAM KITA. Kita semua Muslim, dan perbedaan kita di dalam beberapa hal adalah bagian dari keramahtamahan Islam. Dan hendaknya kita berpegang pada pesan Imam Abul Hasan al-‘Asy’ari, hendaknya kita tidak mengafirkan seorang Muslim yang menghadap kiblat. Nabi Muhammad SAW juga berpesan, bahwa kita harus saling menghormati dan saling menghargai sesama Muslim.

Maka dari itu, salah satu yang bisa saya persembahkan bersama Kiai Miftah adalah mengaji kitab secara online tentang titik-temu Sunni-Syiah sebagai ikhtiar untuk membangkitkan kembali nalar ISLAM KITA. KH. Abdurrahman Wahid pun secara khusus mengajak kita agar terus memupuk wacana ISLAM KITA, bukan ISLAMKU.

Share and Enjoy !

0Shares
0 0

Last modified: Oktober 21, 2020

Comments are closed.