MENELADANI DAKWAH ISLAM ALA WALI SONGO

89

Written by:

Beberapa hari ini, bahkan dalam beberapa tahun terakhir, kita sering menyimak dahwah Islam yang penuh cacian, hinaan, bahkan mengajak orang untuk melakukan kekerasan dan pembunuhan. Cilakanya, dakwah yang semacam itu justru mendapatkan respons positif dari sebagian publik. Ada apa sebenarnya dengan sebagian umat Islam Indonesia yang selama ini dikenal ramah, toleran, dan moderat?

Sedari awal, saya langsung menemukan jawabannya: sebagian umat Islam mulai kehilangan kepercayaan diri terhadap sejarah masa lalunya. Sebagian umat Islam juga tidak memahami esensi ajaran Nabi Muhammad SAW yang penuh cinta-kasih dan kelembutan. Sebab itu, kita harus mempelajari kembali sejarah perjalanan dakwah Nabi, bahkan sejarah perjalanan dakwah para wali di negeri ini. Saya lalu teringat pesan Bung Karno agar kita jangan sekali-sekali melupakan sejarah. Jas Merah.

Ya, dalam dakwah Islam di Nusantara, kita mempunyai sejarah yang gemilang. Dakwah Wali Songo dicatat dengan tinta emas sebagai zaman keemasan dakwah Islam Nusantara. Sebagaimana kita maklumi, bahwa historisitas Islam Nusantara adalah potret Islam yang berkebudayaan dan berkeadaban. Ekspresinya penuh cinta, toleransi, kasih-sayang, dan persaudaraan sejati.

Sebelum Islam menjadi agama yang dianut sebagian besar penduduk Nusantara, Islam masih menjadi agama minoritas. Hindu, Budha, dan aliran kepercayaan lebih dahulu menjadi agama yang dianut sebagian besar warga Nusantara. Pertanyaannya, kenapa kemudian terjadi gelombang konversi besar-besaran untuk memeluk Islam?

Wali Songo adalah kunci keindahan dakwah Islam. Sunan Ampel dikenal sebagai sosok penting bagi fondasi dakwah Wali Songo. Ia datang ke Jawa pada abad ke-15. Ia berasal dari Champa yang dikenal sebagai salah satu kerajaan penting dalam perdagangan rempah dari Teluk Persia ke Selatan Tiongkok. Kerajaan Champa juga menjadi penghubung perdagangan antara bangsa Arab dengan Indochina. Champa juga dikenal mempunyai hubungan kuat dengen Kerajaan Sriwijaya dan Majapahit. Bahkan, Raja Brawijaya V mempunyai istri bernama Anarawati atau Dwarawati, yang kebetulan salah seorang puteri dari Kerajaan Champa.

Nah, Champa di sini bukan hanya sekadar teritori kekuasaan dan konglomerasi perdagangan. Champa juga menjadi salah satu pusat Syiah Imamiyah. Beberapa litarutur menyebutkan bahwa Champa adalah pusat Syiah Zaydiyah. Namun jika ditelusuri jejak hubungan antara Champa dengan Persia yang sangat intens, maka sebenarnya Champa merupakan salah satu pusat Syiah Imamiyah. Hal tersebut bisa dilacak dari sejumlah tradisi keagamaan yang dibawa oleh Sunan Ampel ke bumi Nusantara, seperti ziarah kubur, Maulid Nabi Muhammad SAW, tahlilan, talqin, 1 Syura dan 10 Syura, dan lain-lain. Fakta-fakta ini kemudian dapat menjelaskan kenapa wajah Sunni Nusantara mampu berakulturasi dengan tradisi Syiah yang sangat mengakar kuat di Tanah Air hingga sekarang ini.

Yang khas dari dakwah Islam Wali Songo adalah mengedepankan wajah esoteris Islam, yang biasa dikenal dengan tasawuf. Pendekatan dakwah dengan medium tasawuf mempunyai kelebihan tersendiri, karena yang digunakan bukan dakwah secara lisan, melainkan dakwah dengan mengedepankan keteladanan akhlak dan olah batin. Tasawuf meniscayakan kebeningan hati agar laku hidup menjadi berkilau untuk meraih kebahagiaan hidup.

Tidak hanya itu saja, Wali Songo juga menyiapkan lembaga pendidikan untuk menempa pribadi-pribadi Muslim yang mampu menyelami lautan ilmu keislaman yang sangat kaya itu. Berislam harus disertai dengan penguasaan yang baik terhadap etika, estetika, bahasa, dan logika dalam Islam. Maka dari itu, Sunan Giri dan Sunan Bonang mendirikan pesantren sebagai wadah untuk mendidik dan mengajarkan keilmuan Islam. Konon, pesantren merupakan sebuah entitas yang dikopi dari tradisi Hindu dan Budha yang digunakan sebagai tempat untuk menempa para biara dan tokoh-tokoh agama. Mereka yang belajar di pesantren ini, kemudian dikenal dengan “santri” yang juga merupakan istilah yang populer dalam tradisi Hindu-Budha. Kata “santri” berasal dari kata “sasthri’, yaitu orang-orang yang mempelajari kitab suci (sashtra).

Wali Songo mengajarkan kepada kita, bahwa dakwah Islam harus dipersiapkan secara sungguh-sungguh dengan cara membekali umat Islam dengan seperangkat khazanah keislaman, sehingga Islam dipahami dengan baik dan benar untuk mewujudkan kemaslahatan yang seluas-luasnya bagi kemanusiaan.

Maka dari itu, terasa aneh jika belakangan muncul sejumlah sosok yang mengatasnamakan “ustadz”, tetapi tidak mempunyai pengetahuan yang mendalam terhadap khazanah Islam. Mereka tidak ditempa di pesantren-pesantren yang mempunyai reputasi pendidikan keislaman yang mumpuni. Bahkan di antara mereka ada yang baru memeluk Islam (muallaf), tapi berdakwah seolah-olah mengetahui Islam secara paripurna. Cilakanya, banyak pula yang menjadi fansnya.

Puncaknya, Wali Songo mengajarkan kepada kita semua perihal dakwah yang menghibur melalui medium seni dan budaya. Dakwah yang membangun ketenteraman jiwa dan kebahagiaan batin. Misalnya Sunan Bonang yang mempopulerkan tembang “Tombo Ati”. Pesannya sederhana, jika hati kita bersih dan bergelora, maka hidup yang penuh misteri dan lara ini akan dilalui dengan penuh kesenangan dan kebahagiaan. Intinya adalah lakukan hal-hal yang menjadi obat hati.

Sunan Bonang di dalam tembang “Tombo Ati” menulis: Obat hati ada lima perkaranya: yang pertama, baca Quran dan maknanya; yang kedua, shalat malam dirinkanlah; yang ketiga, berkumpullah dengan orang saleh; yang keempat, perbanyaklah berpuasa; dan yang kelima, zikir malam perbanyaklah.

Berislam menurut Sunan Bonang bukan hanya laku simbol, melainkan laku lahir dan batin. Perlu memahami al-Quran dengan baik dan benar. Perlu menyelama esensi ibadah. Tidak lupa beragama juga harus disertai dengan ketelitian dalam memilih guru. Hendaklah kita bergaul dengan orang-orang saleh, bukan dengan orang-orang yang menjual kesalehan.

Sunan Kalijaga menulis tembang “Ilir-Ilir” yang tidak kalah populer dalam rangka menghibur dan , membangkitkan semangat umat, sebagai berikut: Bangunlah, bangunlah; tanaman sudah bersemi; demikian menghijau bagaikan pengantin baru; anak gembala, anak gembala panjatlah; pohon blimbing itu; biar licin dan susah tetaplah kau panjat; untuk membasuh pakaianmu; pakaianmu terkoyak-koyak di bagian samping; jahitlah, benahilah untuk menghadap nanti sore; mumpung bulan bersinar terang; mumpung banyak waktu luang; ayo bersoraklah dengan sorakan iya

Dakwah Wali Songo di atas menjadi kunci moderasi Islam yang kita rasakan hingga saat ini. Wajah Islam di negeri ini sangat toleran dan moderat, serta mampu menerima keragaman agama dan mazhab tidak lain karena wajah Islam yang berkebudayaan. Kita sejak lama diajarkan untuk saling menghormati dan saling menghargai di antara sesama umat beragama. Seperti kata Bung Karno, kita tidak boleh egois dan tidak boleh fanatis dalam beragama.

Kita sungguh beruntung, karena Wali Songo mewarisi jejak dakwah yang berbudaya.  Andai dulu dakwah Islam bernuansa kebencian dan kekerasan, seperti yang kita tonton di media sosial, maka sulit rasanya Islam bisa berkembang luas, seperti yang kita lihat bersama sekarang ini.

Maka dari itu, mari kita hidupkan kembali dakwah Islam ala Wali Songo. Dakwah yang merangkul, bukan dakwah yang memukul. Dakwah yang mengajak, bukan dakwah yang mengejek. Dakwah yang ramah, bukan dakwah yang marah. Dakwah yang membangun simpati, bukan dakwah yang mengajarkan antipati dan benci. Walhasil, saatnya kita belajar dari dakwah Wali Songo, bukan dakwah “Wali Songong” yang belakangan ini membanjiri media sosial kita.

Share and Enjoy !

0Shares
0 0

Last modified: Oktober 20, 2020

Comments are closed.